Tag Archives: Metro tv

Selamat Tinggal Elang Biru

Awal november 2009, saya pulang usai interview terakhir dengan metro tv. Rasanya seperti kemarin. Karena tidak tahu angkot apa yang harus dinaiki, saya jalan kaki menuju jembatan penyebrangan terdekat, jaraknya kira-kira satu km. Di atas jembatan, saya menoleh kembali ke gedung dengan logo burung yang lama, ipod saya masih memutarkan lagu muse-victorious, berhenti sejenak, membidik ke arah gedung dengan posisi tangan seolah-olah sebagai AK 47 dan berkata “I will take you down”

Maksud saya kala itu, saya yakin lolos seleksi JDP, prosesnya lama dan sulit, sedangkan saingannya pun juga tidak sembarangan. Tekad sudah bulat, jadi reporter metro tv, dan bisa menaklukan tantangan yang ada, apapun itu.

Lalu saya membayangkan hidup saya beberapa tahun kedepan seperti gabungan soe hok gie & goenawan muhammad. Jadi wartawan idealis, bekerja untuk jadi pintar, dan memulai hidup bersahaja.

Reality check.

Setelah mengikuti kelas satu bulan, saya bersama teman-teman seangkatan magang di Media Indonesia, dan saya merasa benar-benar jadi wartawan. Soliter, dan mengikuti segala aspek teknis yang pernah dipelajari di kelas…yaa dengan sedikit penyesuaian. Indonesia vs Qatar di GBK, momen yang tidak terlupakan, saya merasakan histeria fans sepak bola timnas! dan ingat, seseorang memasuki lapangan karena kecewa timnas kalah. Lalu merasakan hidup di bui, untuk buat feature tentang penjara, saat itu sedang ramai-ramainya kasus arthalita suryani yang mendapat fasilitas mewah di penjara. LP yang saya coba dalam 8 jam, adalah LP minim fasilitas. Pertama kalinya center spread di Media Indonesia! Setelah itu, magang di MI ditutup dengan liputan demo besar-besaran 100 hari SBY di depan Istana Negara, bisa duduk sambil tidur-tiduran di jalan protokol yang biasanya ramai, saya begitu takjub.

Kembali ke Metro TV, masuk kelas lagi satu bulan. Setelah itu…liputan patroli, shift 4 dari malam hingga pagi. Baru mau lolos dari holy shift itu, saya digrounded karena live report pertama kali di Koja, gagal. Gagal secara penampilan, karena dasi miring, dan kebetulan bos nonton. Kembali lagi merasakan holy shift selama tiga bulan. Badan sempat kurus hingga berat saya 54 kg! Tapi untungnya tidak pernah rubuh.

Setelah bebas dari holy shift, baru senang-senangnya dapat penugasan di desk ekonomi, dan harus BKO ke Makassar.

Bertemu banyak teman, dan impian saya untuk merasakan sunset saat pulang kerja terealisasi, bahkan lebih indah. Sunset di pantai losari, dan segelas bir di popsa (cafe pinggir pantai). Sebulan kemudian, saya BKO ke Surabaya, merasakan pertama kalinya Ramadhan tanpa orang tua. Liputan yang menyenangkan, pergi ke tempat-tempat tak terduga, masjid turen, goa muhammad, dan pertama kalinya ke lumpur lapindo.

Satu bulan setengah saya lewati di Surabaya, saat kembali ke Jakarta, dirolling ke program bernama Genta Demokrasi. Awalnya risih, karena tidak menyukai politik sama sekali, tanpa diduga, malah saya bisa pergi ke tempat-tempat paling indah di Indonesia, Flores, TMK Komodo, Buton, bau bau, Raha, dan…saya lupa apa lagi.

tujuh bulan di genta demokrasi, lalu dirolling lagi ke reguler (berita harian). Awalnya tugas-tugas biasa, lalu mulailah secara random, korlip menugaskan saya ke tempat-tempat berbahaya. Sungguh saya tidak mau awalnya, tapi yang namanya penugasan? Harus dijalani. Palu, Poso, Bima, Ambon, dan mesuji penutup tahun 2011. Ya Teroris, ya konflik komunal, apalah, dari sini, saya mulai melihat dunia luar, begitu naifnya hidup saya selama ini, Ditambah penugasan ajaib, konvoi global march to jerusalem, jalur darat, melewati lebih dari sembilan negara selama satu bulan lebih. Di sinilah mata saya kembali terbuka melihat dunia luar, timur tengah konflik abadi israel & palestina, mendapatkan pemahaman yang sangat luas dari guru-guru selama perjalanan. Wartawan senior republika, tv one, relawan mer-c, hingga ustad-ustad dari aqsa working group, yang selalu sabar menjawab semua pertanyaan bodoh saya selama perjalanan.

Belum berakhir di Jerusalem, mirisnya kehidupan TKI di Sabah, konflik komunal aliran tajul muluk di sampang, hingga lagi-lagi konflik bau sara di balinuraga & sumbawa besar. Semakin membuat saya berpendapat, kita sebagai manusia begitu lemahnya, dan begitu mudah terperdaya.

Oh iya, belum liputan nempel Foke! Konflik batin harus bisa bikin berita yg ga tendensius tapi juga ga bisa kritik, tantangan juga sih, tapi untung aja cuma dua bulan.

Musim banjir, juga merupakan tantangan tersendiri bagi wartawan tv, baru pertama kalinya melihat thamrin sudirman lumpuh, disusul beberapa daerah seperti pluit dan penjaringan. Sempat gatal-gatal seminggu usai liputan banjir, tapi jika semua dijalani dengan ikhlas, gatal-gatalnya hilang dengan sedirinya.

Masalah keselamatan selama liputanpun juga mulai mengusik saya. Hingga puncaknya saya menolak tugas untuk naik hercules sebar garam ke udara mencegah hujan besar di jakarta. Meskipun konsekuensinya berat, tapi saya yakin saya sudah membuat keputusan Yang tepat, karena tidak ada jaminan keselamatan, pun begitu berisiko untuk sebuah berita yang magnitudenya sudah basi.

Keselamatan bagi jurnalis inilah yang membuat saya tersadar, betapa pentingnya perhitungan presisi saat liputan, malaikat pelindung tidak selamanya berada di depan kita kan?

Liputan terakhir saya di metro tv adalah tentang kasus cebongan. Enough said.

Tahun ini, saya putuskan untuk expand, melihat dunia lainnya. Meninggalkan metro tv, yang telah memberikan saya begitu banyak realitas diluar sana untuk dicermati, ditambah teman-teman kerja yang serasa seperti teman-teman saat kuliah, mendapatkan keluarga baru, yang agak berat untuk ditinggalkan.

Well, life must go on, tantangan baru di depan mata, kompas tv menjadi tempat bagi saya untuk meneruskan ibadah saya. Menjadi seseorang yang dipercaya untuk menyebarkan syiar berguna bagi masyarakat.

20130413-135657.jpg

Advertisements

5 Comments

Filed under renungan relung

Yogyakarta

Ini liputan terakhir di metro tv. kurang semangat juga sih, well, I won’t tell any cebongan story, this sentimental moment brought to me to the lazy ass level, saat wawancara, ambil stockshot, hingga editing. salah satu spot tempat gua ambil stockshot, ya apalagi landmark yogya; tugu.

 

Image

 

fpto diatas diambil ga sengaja, sambil nemenin Wildan (camera person) tapi kok ya sayang kalo ga diapa2in. mbok-mbok dengan tongkat menantang tugu di siang hari…ceritanya begitu…

dan di hari kedua setelah muter-muter, punya kesempatan buat wawancara Sultan. jadi inget, waktu SMA, pernah tur keliling kraton, dan ga kebayang kalo bakal ketemu sama yang punya kraton beberapa tahun kemudian. dan ini pertama kali gua foto sama narsum. I met the king! can’t believe it (norak)

 

Image

 

ps. gua lagi belajar foto item putih, dan ternyata asik bgt!

2 Comments

Filed under Uncategorized

Riana Rifani & Pascalis Iswari

Riana Rifani & Pascalis Iswari

Riana Rifani, ketemu waktu tes JDP Metro TV, mantan vokalis Minoru yang punya hobi dagang, yang paling labil seangkatan 😛

Pascalis Iswari, ketemu pertama kali pas masuk kelas JDP, mungil, punya tombol rahasia buat jadi hulk girl.

Leave a comment

March 29, 2013 · 10:18 am

Story from middle east

Pertama kali mendengar penugasan, ikut konvoi jalur darat, dari India ke Perbatasan Palestina, jujur kaget! lebih kaget lagi harus jalan sendiri, berperan sebagai reporter, cameraman, dan editor. lantas saya sempat bilang ke bos, bukannya menolak tugas, tapi apa pantas saya diberikan kepercayaan untuk liputan sendirian? bagi saya tanpa sparing partner, tanpa bekal teknis kamera? lebih baik serahkan tugas ini pada orang yang jauh lebih kompeten, apalagi saya tidak memiliki pengetahuan banyak tentang konflik timur tengah. Masih ada waktu dua minggu untuk belajar, itu kalimat yang dikatakan orang yang memberi saya tugas. Baiklah, saya laksanakan.

Banyak sekali “what if” di kepala saya selama dua minggu sebelum berangkat:
1. gimana kalo saya nggak bisa operasikan kamera
2. gimana nanti pas live report
3. lalu, apa kabarnya koneksi internet?
4. oh iya, bahasa arab?
5. gimana kalo nanti nggak bisa kiroim berita
6. apa mereka (orang-orang dari negara yang saya singgahi) ramah media?
7. gimana kalo saya diculik
8. gimana kalo saya pulang tinggal nama?
9. gimana kalo saya ketinggalan konvoi
dan masih banyak “what if” lainnya kala itu. jujur saya takut. saya mencontoh seorang sahabat tentang makna pasrah. usaha, biar selebihnya tuhan yang mengatur.

Allah SWT benar-benar mengatur segalanya. banyak orang-orang baik, yang memberikan saya pelajaran berharga. tidak hanya itu, mereka rela meminjamkan propertinya, untuk saya gunakan demi tugas sebulan, dan lebih-lebih sabar mengajari saya teknik menggunakan kamera.

selama dua minggu, belajar instan, urus visa, meeting dengan romobongan konvoi, datanglah hari H, yang ternyata dipercepat satu hari. paniklah saya!

persiapan alat sejak pagi. saya sama sekali tidak memikirkan barang bawaan pribadi, yang penting ada minyak kayu putih, long jhon, dan jaket.

satu tantangan lagi, saya harus pandai-pandai menutup tato, yang kadang-kadang malu-malu muncul dari balik kaos. Saya ikut rombongan ustad dari alfatah, relawan mer-c, dan VOP, lebih baik ditutup sementara, untuk menghormati mereka.

wartawan yang ikut rombongan konvoi, dari tvone, dan republika, mereka seperti guru sebulan dalam kuliah timur tengah bagi saya.

Dari Indonesia, langsung ke singapura, dilanjutkan ke malaysia, lalu sri lanka. terbanglah kami hingga karachi – pakistan. belum ada masalah ambil gambar disana, hingga malamnya internet lancar, saya mengirimkan berita utuh, lengkap, sendiri. sedikit bangga, karena ternyata saya bisa, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, pasti banyak gagalnya, siap-siap SK (selesai karier).

bantuan datang! ya, beberapa peserta rombongan, membantu membawakan tripod, tas beisi perkakas berat, dan mau memegangi kamera ketika saya oncam. Alhamdulillah.

Rasa percaya diri kemudian timbul, sungguh tadinya saya minder, dari tvone yang dikirim adalah salah satu produser andalan mereka yang menguasai isu konflik timur tengah, dari republika yang dikirim adalah wartawan senior, lulusan al-azhar kairo. saya anggap ini belajar sekaligus ujian. jika gagal, saya siap dicemooh orang-orang sekantor, dan kemungkinan terburuk SK (Selesai Karier).

Konvoi berjalan mulus, tanpa ada gangguan berarti, balouchistan bisa kami lewati, masuk Iran disambut bagai tamu negara, hingga presiden ahmadinejad menjamu kita.

cuaca mulai tidak bersahabat, saya tidak terbiasa, mulai bersin-bersin. selalu ada saja bantuan, teman relawan memberikan saya: tolak angin (maaf bukan iklan, tapi kenyataannya, mujarab). berita dapat dikirim, meskipun sudah diendapkan beberapa hari, karena perjalanan nonstop. kami hanya singgah di mesjid, atau pom bensin.

saya ingat, waktu ke istana pahlevi, kamera tidak diperkenankan masuk. teman dari iran, meawarkan bantuan, untuk menitipkan kamera di mobilnya, tanpa penjagaan. saya keberatan, lebih baik saya diluar saja, menunggu rombongan selesai keluar istana, toh ini hanya jamuan saja berkunjung ke museum, dari frame berita tidak penting. lagipula, kamera kantor merupakan amanah, mahal pula, jika hilang saya belum tentu bisa mengantinya dengan yang baru. selama 3 jam saya menunggu, uang tidak ada! sudah habis beli makan kemarin-kemarin, tinggal dollar, yang tidak diterima. hanya ada 100 ml air mineral (kira-kira ukurannya segitu) dan 6 batang marlboro. udara dingin. air beku. cuma rokok satu-satunya cara supaya sedikit lupa dengan haus dan lapar.

saling terikat satu sama lainnya mulai terasa, apalagi merasa seperti satu keluarga, 24 rombongan dari Indonesia, di negara orang, kampanye damai membebaskan palestina, kadang kami asyik sendiri. banyak diskusi serius, hingga bercanda mengiringi perjalanan kami. saya mulai merasa nyaman dengan orang-orang disekeliling saya.

kadang saya lepaskan atribut saya sebagai wartawan, ketika tidak dibutuhkan, sama-sama makan makanan aneh, mengecap abon yang alhamdulillah nikmatnya, kecap, saus sambal, dan teri kacang, yang kami buka sedikit saat di mershin – turki, rasanya nikmat sekali.

live report berjalan dengan lancar, semua pekerjaan berjalan dengan sangat baik. meskipun saya dan beberapa teman lainnya sempat ditinggal di ankara-turki, saat mencari simcard, untuk internet dan koordinasi dengan jakarta. marah, pasti, kok tega-teganya ketua rombongan meninggalkan kita? mungkin kala itu ia terdesak dengan rombongan negara lain, pun juga karena tidak diperbolehkan lama-lama di depan kedubes israel.

Marah, karena merasa bangsa diremehkan, marah karena kok mau – mau saja diremehkan, sempat jadi batu sandungan saya, luapan emosi di kapal, menuju lebanon, tidak terhindarkan, untungnya ustad-ustad yang baik hati mengingatkan saya untuk tetap tenang.

itu satu-satunya kesalahan saya sebagai jurnalis, menggunakan emosi, karena saya merasa sebagai bagian dari rombongan. tapi sebagai mahluk ciptaan tuhan, wajib hukumnya.

berbicara tentang marah, saya jadi lebih mengerti perasaan cameraman saat sedang konsentrasi ambil gambar, lalu diganggu, saya lami hal serupa, saya didorong oleh polisi saat sedang asyik ambil gambar, saya marah-marah, tapi percuma mereka tidak tahu bahasa inggris.

hingga tiba di jordania, kami makin kompak…hingga induk semang tempat kami menyewa apartment, memanfaatkan kesempatan. well, hari palestina, aksi di perbatasan, sebagai penutup liputan saya, semua berjalan dengan lancar, dari hari pertama hingga hari terakhir saya menapakkan kaki di timur tengah.

selama konvoi, pada gilirannya saya berhenti memikirkan, “newsroom puas nggak sih sama kerja gua” just let it be. entah kenapa saya punya feeling bagus kala itu.

tidak terasa, tidur dari mesjid ke mesjid, duduk beberapa hari di bus, memanfaatkan kesempatan berhenti di pom bensin untuk isi segala baterai, sudah lupa rasanya dingin seperti apa, hingga saya bawa oleh-oleh sakit punggung sampai jakarta, alat-alat kantor yang begitu berat,banyak,besar, dan harus dijaga, kendala bahasa hingga saya menggunakan bahasa isyarat, jantung mau copot di balouchistan, check point 2 jam sekali, sepanjang malam tidak bisa tidur ingat film babel, takutnya da sniper dari balik gunung. malam-malam masuk ke markas hisbullah, dikira mau apa, tidak tahunya dijamu makan malam, akhirnya saya dapat prespektif yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, apalagi yang saya takutkan tidak terjadi. bisa pulang dengan selamat, membawa kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan, punya saudara-saudara baru, yang insya allah jika tiba waktunya nanti akan dikumpulkan kembali di alam barzah.

mungkin cerita ini kurang detail, hanya ada di memori saya detailnya. lebih baik begitu, saya simpan lagi untuk anak cucu saya kelak. karena industri ini sangat dinamis, tidak baik menyimpan memori indah untuk dikenang tiap hari, karena saya bukan siapa-siapa besok, atau lusa.

PS. saya buang air besar, dari sri lanka hingga jordan, kotoran saya ada di…setidaknya 8 negara! ahahahaha (oke, cuekin aja bagian yang ini)

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung, Sarapan dingin