Category Archives: Sarapan dingin

Catatan Sumbawa

Seperti Judulnya, Sumbawa harusnya damai. Konflik Komunal di awal tahun, benar-benar bikin saya stres, ada apa sih dengan kita? kok begitu mudahnya “terbakar”

Ketika saya tanya tetua adat setempat, yang dilupakan sebenarnya adalah sebuah nilai hidup. Kita Sering mendengar kata populer ‘kearifan lokal’

Bayangkan, ratusan rumah suku tertentu dibakar, karena sekelompok orang mendapat kabar yang disebar melalui jejaring sosial, mengenai salah satu anggota sukunya yang dianiaya suku lainnya. Lagi-lagi aparat keamanan ‘telat’ tidak bertindak, saat bangunan-bangunan belum berbentuk abu.

Konflik komunal, karena isu sepele, seorang polisi suku A, dituduh menganiaya perempuan dari suku B, hingga tewas, setelah diautopsi, ternyata perempuan tersebut tewas karena kecelakaan, tetapi seseorang mengembangkan isu ini sebagai bentuk protes, atas kecemburuan sosial, karena suku A yang terkenal gigih bekerja, lebih sejahtera dibanding suku B. Sementara, suku A dianggap telah menodai nilai syariah dengan membangun banyak klub remang-remang, akhirnya pemerintah setempat sempat menggusur klub remang-remang pinggir pantai, untuk meredakan amarah suku B, tetapi, nyatanya…

sumbaw

Hotel Tambora, samping Kantor Bupati, tidak luput dari amuk massa

Sultan Sumbawa, M. Kaharuddin IV, sempat mengumpulkan para pemuka adat, dan membahas masalah ini, menurut sultan setiap orang yang mendiami Sumbawa Besar, harus patuh pada adat, memahami filosofi tanah Sumbawa “ketaket ko nene, kangila boat lenge” malu pada tuhan, takut berbuat buruk”

Kita ternyata lengah, saking absurdnya kebijakan pemerintah untuk daerah-daerah yang perlu perhatian, saat kejadian, bahkan seorang bupati dan sultan yang turun untuk meredakan amarah tidak digubris massa.

sultan

Sultan: sumbawa tidak hanya islam, tapi juga kristen, hindu, bali, jawa, bugis, dan semuanya yang ingin hidup damai

Salah satu pengungsi, Dewa, pasrah, ia percaya dengan hukum karma, dan tidak ingin membalas perbuatan orang-orang yang telah membakar rumahnya, harta bendanya habis, tetapi ia bersyukur, keluarganya selamat.

dewa

Dewa: saya percaya hukum karma

Padahal, Sumbawa sebenarnya tempat yang sangat indah, Moyo Hulu, bukit hijau, tempat ternak merumput, seperti dunia antah berantah, yang masih damai hingga kini.

sumbawa

hijau

Tambahan, behind the scene! thanks to Wildan Indrawan, Juru Kamera yang ngerti, keinginan nyeleneh reporternya! untuk bikin paket durasi 7 menit, dengan visual ciamik!

behindthescene

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung, Sarapan dingin

Story from middle east

Pertama kali mendengar penugasan, ikut konvoi jalur darat, dari India ke Perbatasan Palestina, jujur kaget! lebih kaget lagi harus jalan sendiri, berperan sebagai reporter, cameraman, dan editor. lantas saya sempat bilang ke bos, bukannya menolak tugas, tapi apa pantas saya diberikan kepercayaan untuk liputan sendirian? bagi saya tanpa sparing partner, tanpa bekal teknis kamera? lebih baik serahkan tugas ini pada orang yang jauh lebih kompeten, apalagi saya tidak memiliki pengetahuan banyak tentang konflik timur tengah. Masih ada waktu dua minggu untuk belajar, itu kalimat yang dikatakan orang yang memberi saya tugas. Baiklah, saya laksanakan.

Banyak sekali “what if” di kepala saya selama dua minggu sebelum berangkat:
1. gimana kalo saya nggak bisa operasikan kamera
2. gimana nanti pas live report
3. lalu, apa kabarnya koneksi internet?
4. oh iya, bahasa arab?
5. gimana kalo nanti nggak bisa kiroim berita
6. apa mereka (orang-orang dari negara yang saya singgahi) ramah media?
7. gimana kalo saya diculik
8. gimana kalo saya pulang tinggal nama?
9. gimana kalo saya ketinggalan konvoi
dan masih banyak “what if” lainnya kala itu. jujur saya takut. saya mencontoh seorang sahabat tentang makna pasrah. usaha, biar selebihnya tuhan yang mengatur.

Allah SWT benar-benar mengatur segalanya. banyak orang-orang baik, yang memberikan saya pelajaran berharga. tidak hanya itu, mereka rela meminjamkan propertinya, untuk saya gunakan demi tugas sebulan, dan lebih-lebih sabar mengajari saya teknik menggunakan kamera.

selama dua minggu, belajar instan, urus visa, meeting dengan romobongan konvoi, datanglah hari H, yang ternyata dipercepat satu hari. paniklah saya!

persiapan alat sejak pagi. saya sama sekali tidak memikirkan barang bawaan pribadi, yang penting ada minyak kayu putih, long jhon, dan jaket.

satu tantangan lagi, saya harus pandai-pandai menutup tato, yang kadang-kadang malu-malu muncul dari balik kaos. Saya ikut rombongan ustad dari alfatah, relawan mer-c, dan VOP, lebih baik ditutup sementara, untuk menghormati mereka.

wartawan yang ikut rombongan konvoi, dari tvone, dan republika, mereka seperti guru sebulan dalam kuliah timur tengah bagi saya.

Dari Indonesia, langsung ke singapura, dilanjutkan ke malaysia, lalu sri lanka. terbanglah kami hingga karachi – pakistan. belum ada masalah ambil gambar disana, hingga malamnya internet lancar, saya mengirimkan berita utuh, lengkap, sendiri. sedikit bangga, karena ternyata saya bisa, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, pasti banyak gagalnya, siap-siap SK (selesai karier).

bantuan datang! ya, beberapa peserta rombongan, membantu membawakan tripod, tas beisi perkakas berat, dan mau memegangi kamera ketika saya oncam. Alhamdulillah.

Rasa percaya diri kemudian timbul, sungguh tadinya saya minder, dari tvone yang dikirim adalah salah satu produser andalan mereka yang menguasai isu konflik timur tengah, dari republika yang dikirim adalah wartawan senior, lulusan al-azhar kairo. saya anggap ini belajar sekaligus ujian. jika gagal, saya siap dicemooh orang-orang sekantor, dan kemungkinan terburuk SK (Selesai Karier).

Konvoi berjalan mulus, tanpa ada gangguan berarti, balouchistan bisa kami lewati, masuk Iran disambut bagai tamu negara, hingga presiden ahmadinejad menjamu kita.

cuaca mulai tidak bersahabat, saya tidak terbiasa, mulai bersin-bersin. selalu ada saja bantuan, teman relawan memberikan saya: tolak angin (maaf bukan iklan, tapi kenyataannya, mujarab). berita dapat dikirim, meskipun sudah diendapkan beberapa hari, karena perjalanan nonstop. kami hanya singgah di mesjid, atau pom bensin.

saya ingat, waktu ke istana pahlevi, kamera tidak diperkenankan masuk. teman dari iran, meawarkan bantuan, untuk menitipkan kamera di mobilnya, tanpa penjagaan. saya keberatan, lebih baik saya diluar saja, menunggu rombongan selesai keluar istana, toh ini hanya jamuan saja berkunjung ke museum, dari frame berita tidak penting. lagipula, kamera kantor merupakan amanah, mahal pula, jika hilang saya belum tentu bisa mengantinya dengan yang baru. selama 3 jam saya menunggu, uang tidak ada! sudah habis beli makan kemarin-kemarin, tinggal dollar, yang tidak diterima. hanya ada 100 ml air mineral (kira-kira ukurannya segitu) dan 6 batang marlboro. udara dingin. air beku. cuma rokok satu-satunya cara supaya sedikit lupa dengan haus dan lapar.

saling terikat satu sama lainnya mulai terasa, apalagi merasa seperti satu keluarga, 24 rombongan dari Indonesia, di negara orang, kampanye damai membebaskan palestina, kadang kami asyik sendiri. banyak diskusi serius, hingga bercanda mengiringi perjalanan kami. saya mulai merasa nyaman dengan orang-orang disekeliling saya.

kadang saya lepaskan atribut saya sebagai wartawan, ketika tidak dibutuhkan, sama-sama makan makanan aneh, mengecap abon yang alhamdulillah nikmatnya, kecap, saus sambal, dan teri kacang, yang kami buka sedikit saat di mershin – turki, rasanya nikmat sekali.

live report berjalan dengan lancar, semua pekerjaan berjalan dengan sangat baik. meskipun saya dan beberapa teman lainnya sempat ditinggal di ankara-turki, saat mencari simcard, untuk internet dan koordinasi dengan jakarta. marah, pasti, kok tega-teganya ketua rombongan meninggalkan kita? mungkin kala itu ia terdesak dengan rombongan negara lain, pun juga karena tidak diperbolehkan lama-lama di depan kedubes israel.

Marah, karena merasa bangsa diremehkan, marah karena kok mau – mau saja diremehkan, sempat jadi batu sandungan saya, luapan emosi di kapal, menuju lebanon, tidak terhindarkan, untungnya ustad-ustad yang baik hati mengingatkan saya untuk tetap tenang.

itu satu-satunya kesalahan saya sebagai jurnalis, menggunakan emosi, karena saya merasa sebagai bagian dari rombongan. tapi sebagai mahluk ciptaan tuhan, wajib hukumnya.

berbicara tentang marah, saya jadi lebih mengerti perasaan cameraman saat sedang konsentrasi ambil gambar, lalu diganggu, saya lami hal serupa, saya didorong oleh polisi saat sedang asyik ambil gambar, saya marah-marah, tapi percuma mereka tidak tahu bahasa inggris.

hingga tiba di jordania, kami makin kompak…hingga induk semang tempat kami menyewa apartment, memanfaatkan kesempatan. well, hari palestina, aksi di perbatasan, sebagai penutup liputan saya, semua berjalan dengan lancar, dari hari pertama hingga hari terakhir saya menapakkan kaki di timur tengah.

selama konvoi, pada gilirannya saya berhenti memikirkan, “newsroom puas nggak sih sama kerja gua” just let it be. entah kenapa saya punya feeling bagus kala itu.

tidak terasa, tidur dari mesjid ke mesjid, duduk beberapa hari di bus, memanfaatkan kesempatan berhenti di pom bensin untuk isi segala baterai, sudah lupa rasanya dingin seperti apa, hingga saya bawa oleh-oleh sakit punggung sampai jakarta, alat-alat kantor yang begitu berat,banyak,besar, dan harus dijaga, kendala bahasa hingga saya menggunakan bahasa isyarat, jantung mau copot di balouchistan, check point 2 jam sekali, sepanjang malam tidak bisa tidur ingat film babel, takutnya da sniper dari balik gunung. malam-malam masuk ke markas hisbullah, dikira mau apa, tidak tahunya dijamu makan malam, akhirnya saya dapat prespektif yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, apalagi yang saya takutkan tidak terjadi. bisa pulang dengan selamat, membawa kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan, punya saudara-saudara baru, yang insya allah jika tiba waktunya nanti akan dikumpulkan kembali di alam barzah.

mungkin cerita ini kurang detail, hanya ada di memori saya detailnya. lebih baik begitu, saya simpan lagi untuk anak cucu saya kelak. karena industri ini sangat dinamis, tidak baik menyimpan memori indah untuk dikenang tiap hari, karena saya bukan siapa-siapa besok, atau lusa.

PS. saya buang air besar, dari sri lanka hingga jordan, kotoran saya ada di…setidaknya 8 negara! ahahahaha (oke, cuekin aja bagian yang ini)

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung, Sarapan dingin

Sensasi Teroris

Tahun 2011 merupakan tahun yang sedikit berat bagi saya, karena kala itu saya mulai melek dengan isu terorisme. Kok kedengarannya sekarang lebih pada sensasi? Di beberapa film buatan amerika, sebelum tahun 2000an, teroris menurut mereka adalah: unisoviet, lalu rusia. Kini, teroris diidentifikasikan sebagai kaum radikal yang kadang kala bersorban. Agak kecewa dengan stigma belasan tahun ini, saya muslim, dan tidak setuju dengan aksi radikal atas nama agama, lau dihubungkan dengan terorisme. Apa kabarnya dengan kasus colorado massacre, pengadilan menyebut James Holmes sebagai seorang pesakitan. Dia bawa senjata, 12 orang meninggal dunia, puluhan luka-luka. Ya, mungkin ini hanya kemarahan saya atas stigma yang terbentuk.

Istilah terorisme sudah akrab ditelinga kita sejak 12 tahun lalu. Bom gereja, bom bali I dan II, bom marriot I dan II, bom kedubes australia, bom mapolresta cirebon…lalu 2012 ini, skema teror dengan jaringan baru, muncul di banyak headline berita, sasarannya setelah tahun 2008, aparatur negara, lantas siapa teror siapa? Apa sensasi ini lalu jadi komoditi?

Warga jakarta misalnya, sudah jengah dengar kata teror, dan jadi terbiasa. Tidak semua sensasi benar, tapi apakah kita dapat membenarkan atau menyalahkan sensasi? Boleh percaya atau tidak, teror biasanya datang dari ketakutan, siapa yang takut? Ya yang jadi sasaran teror, kenapa takut? Atau sengaja dibuat takut?

Ini beberapa potongan naskah saya, yang belum diedit.

APAKAH SKEMA TEROR 2012/ ADALAH PROYEK LATAH/ UNTUK MELENGKAPI AKSI TAHUNAN? LANTAS LAGI-LAGI ISLAM MINORITAS YANG JADI SASARAN POLISI//
ANGELINA SONDAKH/ TERDAKWA KASUS WISMA ATLET/ LULUSAN UNIVERSITAS TERNAMA DI INDONESIA/ BUKAN BERARTI SEMUA LULUSAN UNIVERSITAS ITU ADALAH KORUPTOR?
ATAU/ COBA KITA LIHAT GAYUS TAMBUNAN YANG LULUSAN STAN/ APA SEMUA LULUSAN STAN SAMA SEPERTI GAYUS?
ANALOGI YANG SAMA/ KETIKA SESEORANG/ LULUSAN PESANTREN DISEBUT TERORIS/ APAKAH PESANTREN MELAHIRKAN TERORIS?
KENAPA TEROR KINI DIPERSEMPIT MENJADI SATU GOLONGAN SAJA? BUKANKAH SECARA TEORI/ DUNIA SUDAH SEPAKAT/BAHWA PELAKU TEROR BISA BERASAL DARI MANA SAJA?

Kira- kira itu interlude naskah buat program saya. Analogi angie merupakan hasil obrolan dengan teman.

Lalu yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana kita menyikapi dan mendefinisikan kembali teror?

KESEPAKATAN BERSAMA/ MENJADI SEBUAH ARTI BAHASA/ TEROR BERASAL DARI GOLONGAN/ YANG MEMBAHAYAKAN KEDAULATAN NEGARA// BAHASA TIDAK MAMPU MENGOTAKKAN GEJALA SOSIAL DI AMBANG KEPENTINGAN POLITIK KALANG KABUT NEGERI INI//
LANTAS SELAMA INI/ MALING DUIT RAKYAT/ DISEBUT KORUPTOR/ JARINGAN RADIKAL BERSORBAN DISEBUT TERORIS/ SEMUA SUDAH ADA KLASIFIKASINYA TANPA KITA SADARI// STIGMA BAGAI MAGMA/ PANAS DITELINGA/ MENJADI BATU DI KEPALA//

DARI KETERANGAN THORIQ PADA POLISI ADA 4 SASARAN BOM RAKITAN DI JAKARTA/ MARKAS DENSUS 88/ MAKO BRIMOB/ POLDA METRO JAYA/ POS POLISI DI SALEMBA/ DAN KOMUNITAS MASYARAKAT BUDDHA//
APAKAH SOLO DAN DEPOK MEMILIKI BENANG MERAH? YANG PASTI POLA PENYERANGAN DILAKUKAN DENGAN GAYA BERBEDA// THORIQ CS SEPERTINYA TERBURU-BURU MELAKUKAN AKSI TERORNYA/ MERAKIT BOM DENGAN JEDA HANYA BEBERAPA HARI SAJA/ SEBELUM HARI EKSEKUSI// AMATIR BILA DIBANDINGKAN PELAKU TEROR ASUHAN NOORDIN M TOP DAN DOKTER AZHARI// APAKAH JARINGAN DEPOK MERUPAKAN KELOMPOK MANDIRI? TIDAK BEAFILIASI DENGAN JARINGAN LAMA?

JARINGAN BARU INILAH/ CIKAL BAKAL/ AKSI TEROR TAHUNAN/ YANG DIMULAI LAGI PADA TAHUN 2009// SASARANNYA PUN KINI MENGARAH PADA APARATUR NEGARA// TAHUN 2010/ PEMBUNUHAN POLISI DI MAPOLSEK HAMPARAN PERAK/ SUMTERA UTARA/ PERAMPOKAN BANK CIMB NIAGA/ MEDAN/ YANG DISINYALIR MERUPAKAN GABUNGAN PEMAIN LAMA// KEMUDIAN TAHUN 2011/ BOM BUKU DI MARKAS JIL/ RUMAH GORIS MERE/ YAPTO/ DAN AHMAD DHANI/ YANG TERNYTA PELAKUNYA MERUPAKAN KELOMPOK PEPI CS/ YANG JUGA MERENCANAKAN PENGEBOMAN GEREJA CHRIST CATHEDRAL/ SERPONG// BELUM LAGI BOM BUNUH DIRI OLEH SYARIF DI MASJID MAPOLRESTA CIREBON/ YANG SEMPAT DITUDING KAFIR OLEH ABU BAKAR BA-ASYIR// MASIH ADA LAGI/ PENEMBAKAN 3 POLISI DI KANTOR CABANG BANK BCA DI PALU/ SULAWESI TENGAH/ PELAKUNYA ANTO CS MERUPAKAN KELOMPOK BARU/ DENGAN MOTIF BALAS DENDAM// HASILNYA 84 ORANG DITANGKAP DENGAN TUDUHAN SEBAGAI TEORIS SEPANJANG TAHUN 2011/ ENAM TEWAS/ SATU LUKA- LUKA/ 22 ORANG DALAM PROSES PENGAILAN/ DAN 15 ORAN MASIH DISIDIK//
DARI KUANTITAS/ MUNGKIN MENJADI PRESTASI BAGI POLISI/ APALAGI MEREDUKSI AKSI-AKSI BESAR//

Leave a comment

Filed under renungan relung, Sarapan dingin

I wanna

It’s far from comic book’s story
When Heroes can’t find their diaries

She stole all diaries
Try to find her name and didn’t find it

She try to steal another diary
Yes she can…
She’s tired, didn’t find her name even my diary…

Well, I wrote on the stone
With the music and slow tone
Untill I feel lose my bone
Those stones and my heart bond

Same with all heroes, they write her name on the stone

I wanna kiss her when I hug her
I know when she try to kiss my neck

Can’t you see, your name, even it engraved on sea surface

I wrote all those things, easy to made all heroes dumped, but how to make her in love everyday?

*yeeha, lagu baru, dear AD

Leave a comment

Filed under Sarapan dingin

zig zag way as a New breed for a man.

gerrit_t_rietveld_zig_zag_3va

Goenawan Muhammad dalam bukunya yang berjudul ‘Tuhan dan hal-hal yang tak selesai’ menyebutkan bahwa hidup seperti jalan zig zag (terlepas dari konteks tuhan dalam tema bukunya). Kesimpulan saya tentang kata-kata tersebut adalah hidup memang punya sistemnya masing-masing yang berkerja secara acak, penuh dengan beat, dan tanpa disadari jalan zig zag itu adalah jalan setiap individu untuk mengemukakan hidupnya dengan banyaknya pertanyaan di dalam benak masing-masing. Dalam kamus bahasa inggris, breed diidentikan dengan kata-kata seperti beranak, berkembang biak, berternak, memelihara, mendidik , membesarkan, menyebabkan, menimbulkan, keturunan dan beberapa kata turunan yang berhubungan dengan perkembangbiakan. Jika saya buat bold dari kata-kata tersebut yang berhubungan dengan judul, maka saya akan merangkainya seperti; mendidik, membesarkan, keturunan. Tiga kata kunci tersebut akan terus melekat dalam tulisan ini sampai pada akhir paragraf. Karena saya belum puas dengan hasil yang didapat tentang breed yang sempat salah dengar menjadi breath, maka saya browsing dan langsung mencari merriam webster dictionary, ok saya temukan thesaurus dari breed lebih bermakna dari kamus bahasa inggris yang sebelumnya saya baca, breed di sana diartikan sebagai ‘beberapa orang yang tinggal bersama dikarenakan mempunyai beberapa kesamaan’ hmm…itu noun, ok akan saya cari breed dalam verb, ya breed yang dimaksud terdiri dari dua definisi, yaitu; tidak jauh dari makna berkembang biak dan identifikasinya ntuk binatang yang berkembang biak, tapi definisi yang kedua cukup melegakan, karena berhubungan dengan manusia dan kematangannya berpikir dari segi usia, dan menurut dictionary nya selain dari kata-kata yang berhubungan dengan reproduksi dan berkembang biak, adalah tentang sesuatu yang berhubungn dengan kehidupan baru yang berubah secara radikal. Mengapa saya terus mencari tahu?…karena saya tidak puas terhadap arti dari breed di dalam kamus bahasa indonesia yang jika kita identifikasikan melalui jenjang kesopanan bahasa sangat berhubungan dengan binatang yang berkembang biak, pada akhirnya saya sudah menemukan definisi sesungguhnya dari breed yang sebelumnya hanya saya tahu sebagai breed nya breed, seperti beberapa kata dalam bahasa indonesia yang saya masih belum tahu cara mengganti kata lainnya selain kata-kata yang dimaksud.

Kembali lagi pada kehidupan yang mempunyai jalan zig zag, kita bisa membuat visualisasi seperti gurat garis tangan kita sendiri. Di mana tidak akan hidup yang akan terus lurus-lurus saja, tidak ada manusia yang tidak berkembang kecuali otaknya sebesar butir jagung. Manusia selalu belajar (sudah saya ungkapkan dalam tulisan saya sebelumnya). Manusia belajar dari sudut-sudut yang terbentuk dari jalan yang zig-zang, dari situlah ia berkembang, menjadi dewasa. Selain karena kodrat alam, manusia juga harus bisa matang dalam hal pola pikir. Matang dalam membuat keputusan dan matang untuk bertahan hidup sendiri, matang untuk menjalani hidup mandiri, matang untuk bertanggung jawab. Jika kita kaitkan dengan budaya, laki-laki sangat identik dengan ‘tanggung jawab’, dalam segala hal. Laki-laki selalu diidentikan dengan seseorang yang berdiri tegak seperti pohon jati berumur ratusan tahun. Ya, saya setuju, laki-laki sudah seharusnya seperti itu, untuk membuat sebuah benih tumbuh menjadi kecambah, kemudian menjadi batang pohon muda, dan akhirnya tumbuh menjadi dewasa di butuhkan banyak, banyak, banyak perawatan secara alami ataupun rekayasa. Berujung pada hasil dari semua pola didik orang tua terhadap anak laki-lakinya, hasilnya hanya ada dua, yaitu; laki-laki yang goyah, dan laki-laki yang kuat, sama seperti pohon, ada yang reot dan yang kuat. Teserah akan hasil yang ada, tetapi poin penting bagi laki-laki adalah bagaimana ia bisa mempertanggung jawabkan kehidupanya.

Dalam tulisan saya sebelumnya, ada beberapa fase hidup bagi manusia khususnya laki-laki. Berhubungan dengan new breed of man, fase di mana laki-laki akan bertanggung jawab terhadap pasangannya, untuk apa? Untuk mencerna kehidupannya sendiri, kehidupan yang di tentukan dengan ketentuan alam dimana dalam umur tertentu laki-laki harus sudah menikah (menikah untuk seks, dari pada berzina excuse seperti itulah yang dipakai dalam beberapa masyarakat kita, atau bahkan orang tua zaman dulu menikah cepat dikarenakan faktor umur produktif, atau mungkin faktor umur birahi), dan menikah untuk mendapatkan keturunan, menikah untuk meneruskan jalannya yang zig zag, dan menikah untuk menjadi seseorang yang baru, seseorang yang dewasa dan telah memenuhi tahap-tahap hidupnya. Memang mudah dikata, tetapi sangat sulit untuk kita jalani. Bahkan yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya adalah now…then? Atau I still haven’t found what I’m looking for. Ya, laki-laki hidup di antara pencariannya, masih mengenai tanggung jawab yang dimeriahkan oleh orang tua-orang tua kita, bahwa beban laki-laki itu sangat besar, beban berupa tangung jawab. Ok saya tahu, tapi apa pentingnya tanggung jawab, statement yang sangat sakral bagi laki-laki berumur twenty something, saya masih belum menyadari. Saya mulai membayangkan lagi, tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan laki-laki dalam menjalani hidup barunya, hidup untuk menghasilkan keturunan sekaligus mempunyai keluarga baru, meneruskan garis keluarga, dan lepas dari si pendidiknya, yaitu; ayah dan ibu. Tanggung jawab atas nama ayah dan ibu, untuk selalu menjaga nama mereka, taggung jawab sebagai laki-laki…nah ini lebih kompleks dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Terngiang-ngiang dalam pikiran saya tentang membagun keluarga. Membangunnya seperti batang bambu, dengan batang yang semakin mengecil ke atas, semakin tahu intinya, dan semakin tahu bagaimana cara memaknai hidup. Menikah merupakan suatu ketakutan tersendiri bagi laki-laki, tak jauh-jauh…ketakutan terhadap tanggung jawab yang ada. Di samping hipotesa berdasarkan nalar kita, kita juga mempunyai imajinasi indah tentang sebuah keluarga. Keluarga muda, dengan gaya hidu muda, saya perah bilang bahwa saya ingin sekali sunbtahing bersama istri di kepulauan karibia, hiking bersama istri ke Mahameru, atau cukup sekedar bermalam minggu di rumah menonton dvd film kesayangan bersama istri duduk di sofa yang paling nyaman menikmati wine, atau mungkin banyak perbedaan (karena memang setiap manusia berbeda) yang di temui, pastinya nanti ada konflik-konflik hingga klimaks, semua adalah kemungkinan. Kemungkinan untuk meluap-luap, kemungkinan untuk membandingkan, kemungkinan untuk kembali menuju nihil, kemungkinan untuk jatuh terpuruk, kemungkinan untuk lebih terpuruk. Saya lalu bertanya pada diri saya sendiri ’ apa memang kehidupan berumah tangga sangat membingungkan?’ hingga banyak orang yang takut akan menikah (terlepas dari segala bayangan yang membuat saya terseyum simpul).

Seperti sebuah kompetisi dalam suatu permainan. Manusia khususnya laki-laki selalu ingin beranjak ke level-level teratas, dengan score yang lebih tinggi, atau bahkan bonus. Terlepas dari itu semua, laki-laki selalu ingin menjadi pemenang, pemenang dalam hidupnya, pemenang karena telah melawan egonya dan berkutat pada kata sakral bernama tanggung jawab. Menjadi pemenang karena membangun keluarga baru, terlebih lagi euphoia berlebihan karena test pack istri menandakan positif, dan akan lebih, lebih, lebih bahagia bila melihat anaknya berjalan pada jalan yang sudah dibayangkan sebelumnya. Sembari belajar menjadi laki-laki yang benar, menjadi laki-laki yang bisa dicontoh dan dihormati oleh keluarga barunya. Sekali lagi, terdengar mudah, tetapi sangatlah sulit untuk di jalani mengingat banyak sekali sudut-sudut di jalan yang ternyata vertikal dan sulit untuk didaki, sudut vertikal imajiner dalam jalan hidup manusia yang kadang membuat saya bergidik. Baiklah sekarang marilah kita memasukan paham positivisme ke dalam jiwa kelaki-lakian kita, mulailah membangun satu rumah, lalu isi dengan barang-barang yang berguna, buatlah pagar rumah, lalu tanami halaman rumah dengan sesuatu yang hijau, dan terakhir rawatlah rumah tersebut, mungkin di dindingnya di cat beberapa tahun sekali, atau mengganti posisi sofa di ruang kelarga. Rumah ibarat diri kita sendiri (maaf ini cuma pengandaian bukan kokology), rumah bagaikan seorang laki-laki yang baru saja menikah dan harus mengetahui sisi-sisi lain dari pasangan hidupnya, membuatnya nyaman, membuat otot-otot wajah bergerak-gerak, mempunyai keturunan, mengisi segala hal yang positif berikut mencermati risikonya, dan dialah pemenangnya.

Jalan manusia memang zig zag, jika tidak, berarti ada yang salah dengan otaknya. Tuhan punya sistem tersendiri, terpola dengan sempurna, dan tidak ada manusia yang tidak pernah tidak merasakan lelah akan jalannya masing-masing sehingga malas atau takut menghadapi jalan-jalan lainnya, bahkan kejutan-kejutan seperti jalan dengan slope membuat laki-laki terlontar kembali dan harus mengulang lagi. Saya percaya, bahwa pencarian laki-laki akan berhenti seketika ketika ia sudah menemukan keluarga yang hangat dan nyaman, dimana dia merasa sangat dihargai dan dihormati atas segala jeri payah yang ia lakukan untuk keluarganya. Saya? Saya belum menang, saya masih mencari apa yang saya benar-benar butuhkan, dan akan berhenti mencari semua yang berhubungan dengan ‘kebangaan laki-laki’ ketika kelak saya mempunyai keluarga yang bersahaja, ketika kelak saya sdah bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri, dan tahu arti dari kata sakral bagi laki-laki yaitu; tanggung jawab.

2 Comments

Filed under Sarapan dingin

Friends, Escaping one last time

To all my F7 brothers and SVN sisters

what if that picture can describe our fantasy, keep dreaming my friends, someday we”ll gonna take a long journey to catch that moment, as soon as possible, before we were 30, hahahahahahaAs a note, This is an invitation, hahahaha, ayo mari kita cari uang sebanyak-banyaknya

1 Comment

Filed under Killing time, Sarapan dingin

Sostenidos de tanta muerte


– Peradaban dan pembinasaan tak pernah terpisahkan-

Balancing needed to be. every civilization came with it cursed. ketika peradaban sudah mencapai batas maksimum, bearti sudah tidak adalagi yang perlu ditambah, dan muncul banyak sekali orang-orang serakah yang mulai baku hantam, hingga peradaban itu hancur semudah memporak-porandakan sebuah peradaban Aztec dengan teknologi mesiu. serakah yang membuatnya begitu.

Untuk membuat peradabaan yang baru di perlukan beberapa pembinasaan yang lazim maupun tidak lazim, dimulai dari keserakahan dengan alasan “for the greater good” god damned!!!

Dalam setiap peradaban muncul orang-orang antitrust, yang memang ditakdirkan untuk selalu sial dengan pure heart, tetapi lama-kelamaan menjadi apatis dengan semua orang dan mulai membentengi dirinya sendiri.

Ketika sebuah peradaban hancur, hilang sudah semuanya, sebuah ekosistem buatan manusia runtuh, dan kadang diselingi dengan intrik asap mengepul. Timbul banyak sekali bakal calon daun yang diembuni.

Ketika belum Kiamat, peradaban silih berganti datang dan pergi, ketika belum kiamat banyak sekali orang-orang yang serakah, ketika belum kiamat kita semua disibukkan dengan ‘bagaimana caranya membentegi diri kita sendiri’, ya, semua itu tidak akan ada habisnya, dan reorganisasi organisme tetap masih bisa berlangsung secara berulang-ulang.

Leave a comment

Filed under fasting season, Killing time, Sarapan dingin