Category Archives: jalankaki

Catatan Sumbawa

Seperti Judulnya, Sumbawa harusnya damai. Konflik Komunal di awal tahun, benar-benar bikin saya stres, ada apa sih dengan kita? kok begitu mudahnya “terbakar”

Ketika saya tanya tetua adat setempat, yang dilupakan sebenarnya adalah sebuah nilai hidup. Kita Sering mendengar kata populer ‘kearifan lokal’

Bayangkan, ratusan rumah suku tertentu dibakar, karena sekelompok orang mendapat kabar yang disebar melalui jejaring sosial, mengenai salah satu anggota sukunya yang dianiaya suku lainnya. Lagi-lagi aparat keamanan ‘telat’ tidak bertindak, saat bangunan-bangunan belum berbentuk abu.

Konflik komunal, karena isu sepele, seorang polisi suku A, dituduh menganiaya perempuan dari suku B, hingga tewas, setelah diautopsi, ternyata perempuan tersebut tewas karena kecelakaan, tetapi seseorang mengembangkan isu ini sebagai bentuk protes, atas kecemburuan sosial, karena suku A yang terkenal gigih bekerja, lebih sejahtera dibanding suku B. Sementara, suku A dianggap telah menodai nilai syariah dengan membangun banyak klub remang-remang, akhirnya pemerintah setempat sempat menggusur klub remang-remang pinggir pantai, untuk meredakan amarah suku B, tetapi, nyatanya…

sumbaw

Hotel Tambora, samping Kantor Bupati, tidak luput dari amuk massa

Sultan Sumbawa, M. Kaharuddin IV, sempat mengumpulkan para pemuka adat, dan membahas masalah ini, menurut sultan setiap orang yang mendiami Sumbawa Besar, harus patuh pada adat, memahami filosofi tanah Sumbawa “ketaket ko nene, kangila boat lenge” malu pada tuhan, takut berbuat buruk”

Kita ternyata lengah, saking absurdnya kebijakan pemerintah untuk daerah-daerah yang perlu perhatian, saat kejadian, bahkan seorang bupati dan sultan yang turun untuk meredakan amarah tidak digubris massa.

sultan

Sultan: sumbawa tidak hanya islam, tapi juga kristen, hindu, bali, jawa, bugis, dan semuanya yang ingin hidup damai

Salah satu pengungsi, Dewa, pasrah, ia percaya dengan hukum karma, dan tidak ingin membalas perbuatan orang-orang yang telah membakar rumahnya, harta bendanya habis, tetapi ia bersyukur, keluarganya selamat.

dewa

Dewa: saya percaya hukum karma

Padahal, Sumbawa sebenarnya tempat yang sangat indah, Moyo Hulu, bukit hijau, tempat ternak merumput, seperti dunia antah berantah, yang masih damai hingga kini.

sumbawa

hijau

Tambahan, behind the scene! thanks to Wildan Indrawan, Juru Kamera yang ngerti, keinginan nyeleneh reporternya! untuk bikin paket durasi 7 menit, dengan visual ciamik!

behindthescene

Advertisements

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung, Sarapan dingin

Mengintip Tawau – Sabah, Malaysia

About Tawau: Kota pelabuhan berbatasan dengan Nunukan, sekitar 1 jam naik kapal dari Nunukan. Kotanya kecil, semacam BSD rasa Tanjung Priok.

Walaupun terletak di ujung timur Malaysia, tapi kota ini rapih banget. Kalau dilihat dari bangunannya, well, bangunan lama juga kok, cuma karena populasinya sedikit, jadi mungkin itu yang bikin jadi rapih. Kebanyakan warga tawau ex WNI, dari Sulawesi, sampai Kupang, nikah beda negara juga sering kejadian, karena dekat dengan nunukan, istri/ suami salah satunya adalah WNI.

20130607-015452.jpg

jam 5 pagi di tawau, foto diambil dari jendela hotel

Nah, di Tawau semuanya murah, nasi lemak bisa dapat 10 ribuan saja (sudah dirupiahkan) tapi taksinya kadang agak mahal, bisa 40rm. Kebanyakan supir taksi adalah orang Makassar, bisa dibilang yang bangun Tawau, ya orang kita, sampai premanpun, alhamdulillah orang kita juga.

20130607-015954.jpg

Teksi kebanyakan sudah mobil pribadi si supir

Salah satu supir taksi yang saya tanya, mengaku pernah jadi WNI, karena kakaknya lebih dulu di Tawau, akhirnya dia ikut juga. Balik lagi ke kuliner, selain makanan khas melayu, dimana-mana saya menemukan chicken wings, biasanya dimakan satu bucket, rame-rame. Sampe di darat, ya chicken wings lah yang menyelamatkan saya dan cameraman dari kelaparan akut.

20130607-020329.jpg

chicken wings satu ini gerobaknya dekat hotel

Oh iya, banyak juga lho pinoy di Tawau, anak-anak, remaja, biasanya ramai di pasar ikan, ikut kapal nelayan dari Filipina. Bisa dibilang mereka ilegal, masuk negeri orang tanpa dokumen, pasar ikan ini letaknya di sebelah pelabuhan Tawau.

20130607-020550.jpg

Sekitar 20 KM dari Tawau, mulailah kita di tempat antah berantah, kebun kelapa sawit, banyak TKI ilegal bermukim di sana, dipekerjakan dengan upah ilegal, salah satu TKI yang dideportasi pernah saya temui di pelabuan Nunukan, sebelum berangkat ke Tawau, masa kerjanya sudah habis bertahun-tahun ia menikah dengan tenaga kerja asal Filipina di Sabah, sudah punya anak…kepikiran, istri anaknya bagaimana ya?

Nah kembali ke Tawau, malamnya beda sekali, club, tempat karaoke remang-remang, dikuasi pengusaha-pengusaha asal Indonesia, dan…pinoy sebagai escortnya…jangan harap lihat pinoy secantik yang di TV. Salah satu lady escort saya wawancara, Tawau hanya tempat sementara, sebelumke Dubai. What a dream. Ada yang menggelitik, miras oplosan juga dijual, dan…KW.

20130607-021200.jpg

jack’d a- like foto diambil di toko kelontong satu blok dari klub remang-remang

Judi di Tawau juga jadi komoditi, mainan rakyat, disebutnya begitu, dan ternyata banyak juga “bank” yang menyediakan jasa pinjaman. Judi terang-terangan!

SONY DSC

SONY DSC

untungnya di Indonesia tidak ada beginian, tanpa judipun, Bank rentenir tumbuh subur di Indonesia

Banyak yang mengaku, WNI yang sudah jadi Warga negara Malaysia, betah di Tawau, sebagian lagi, masih setia, walaupun sudah puluhan tahun bekerja di Malaysia, dan was-was menjadi warga nomor 3 di tanah orang. Itu hasil renungan saya di pesawat menuju Jakarta. Good guy Air asia, menyediakan chatime milk tea grass jelly, dan menu ala Farrah Quinn.

20130607-021551.jpg

Leave a comment

Filed under jalankaki

The Anger and The Hanger from sampang to kalianda

I started to re-think, what happened with us recently. From the red land, Madura to sumatera’s gate; Lampung.

Sampang, Madura, provinsi di Indonesia yang masih miskin sampai sekarang, padahal potensinya begitu besar. Pemerintah daerah tidak mau ambil pusing, atas musibah yang menimpa ratusan kepala keluarga. Rumah mereka dibakar, karena cara mereka sholat berbeda. Bisa dibilang ini merupakan isu sara, tapi saya lebih memilih untuk berbicara dengan menggukanan isu perbedaan aliran, yah terserahlah, toh intinya sama, ada yang dirugikan. Madura merupakan pulau religi, nilai tradisional dengan kiai sebagai pemuka agama yang digugu menjadi pedoman rakyatnya. Boleh jadi, mereka lebih percaya kiai ketimbang presiden. Para pemuka agama dari empat kabupaten sepakat untuk mengislamkan kembali Tajul muluk beserta pengikutnya. Itu harga mati.

Ratusan orang menyerang kampung syiah aliran tajul muluk, ia dianggap penyebar aliran sesat. Sesat darimana? Sesat karena tidak sepaham?atau sesat karena penghasilan para ustad berkurang, sebab kultur maulid nabi yang biasanya mengongkosi ustad yang bertamu ke rumah-rumah warga, hingga bisa dibelikan sepeda motor, mulai ditinggalkan, khususnya bagi tajul muluk dan pengikutnya.

Lepas dari dilema perut dan keyakinan, apakah sah, mengumpulkan massa salah kaprah, untuk menyerang, dan merusak, kalau sudah terjadi, apa mau ganti rugi di dunia maupun akhirat?

Padahal bila kita endus bumbu konfliknya, masalahnya malah lucu, karena asmara! Siapa sih sebenarnya yang waras di sini?

Kenapa kita begitu mudahnya dihasut…

Frame yang hampir sama terjadi di Lampung baru-baru ini, desa balinuraga, sebuah desa cluster bali (meskipun terselip rumah-rumah non bali) dihancurkan oleh puluhan ribu orang. Teorganisir? Pasti. Massa dari beberapa desa berkumpul untuk menghancurkan balinuraga, desa transmigran dari tahun 70an, yang kini maju pesat. Hancur karena doktrin kebencian, yang juga…lagi-lagi pemicunya adalah masalah sepele. Perempuan. Dua orang perempuan mengaku telah dilecehkan oleh pemuda dari desa balinuraga, marah lantas mengumpulkan massa, untuk menyerang desa balinuraga.

Pause.

Jika yang bersalah satu orang, kenapa satu desa kena getahnya. 12 nyawa melayang. Saya sempat lihat proses ngaben, sembilan jenazah yang hampir semuanya berusia paruh baya, dan satu remaja, doa pengiring kremasi dibacakan, dan sungguh, saya terhanyut. Lilatlah tangis janda-janda itu… Ibu, anak…

Lalu mengapa mereka yang kena getahnya.

Kini proses pemulihan sedang berjalan, warga sudah kembali dari penampungan ke desa balinuraga, membangun rumah mereka.

Kenapa begitu mudah kita terhasut, lalu berbuat onar seperti yang paling berkuasa, bisa saya kutip pernyataan dari teman saya, Janes Simangusong, partner liputan di Kalianda: mengapa meributkan tanah, yang ternyata milik tuhan, toh kita manusia di sini hanya menumpang.

20121106-145357.jpg

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung

Story from middle east

Pertama kali mendengar penugasan, ikut konvoi jalur darat, dari India ke Perbatasan Palestina, jujur kaget! lebih kaget lagi harus jalan sendiri, berperan sebagai reporter, cameraman, dan editor. lantas saya sempat bilang ke bos, bukannya menolak tugas, tapi apa pantas saya diberikan kepercayaan untuk liputan sendirian? bagi saya tanpa sparing partner, tanpa bekal teknis kamera? lebih baik serahkan tugas ini pada orang yang jauh lebih kompeten, apalagi saya tidak memiliki pengetahuan banyak tentang konflik timur tengah. Masih ada waktu dua minggu untuk belajar, itu kalimat yang dikatakan orang yang memberi saya tugas. Baiklah, saya laksanakan.

Banyak sekali “what if” di kepala saya selama dua minggu sebelum berangkat:
1. gimana kalo saya nggak bisa operasikan kamera
2. gimana nanti pas live report
3. lalu, apa kabarnya koneksi internet?
4. oh iya, bahasa arab?
5. gimana kalo nanti nggak bisa kiroim berita
6. apa mereka (orang-orang dari negara yang saya singgahi) ramah media?
7. gimana kalo saya diculik
8. gimana kalo saya pulang tinggal nama?
9. gimana kalo saya ketinggalan konvoi
dan masih banyak “what if” lainnya kala itu. jujur saya takut. saya mencontoh seorang sahabat tentang makna pasrah. usaha, biar selebihnya tuhan yang mengatur.

Allah SWT benar-benar mengatur segalanya. banyak orang-orang baik, yang memberikan saya pelajaran berharga. tidak hanya itu, mereka rela meminjamkan propertinya, untuk saya gunakan demi tugas sebulan, dan lebih-lebih sabar mengajari saya teknik menggunakan kamera.

selama dua minggu, belajar instan, urus visa, meeting dengan romobongan konvoi, datanglah hari H, yang ternyata dipercepat satu hari. paniklah saya!

persiapan alat sejak pagi. saya sama sekali tidak memikirkan barang bawaan pribadi, yang penting ada minyak kayu putih, long jhon, dan jaket.

satu tantangan lagi, saya harus pandai-pandai menutup tato, yang kadang-kadang malu-malu muncul dari balik kaos. Saya ikut rombongan ustad dari alfatah, relawan mer-c, dan VOP, lebih baik ditutup sementara, untuk menghormati mereka.

wartawan yang ikut rombongan konvoi, dari tvone, dan republika, mereka seperti guru sebulan dalam kuliah timur tengah bagi saya.

Dari Indonesia, langsung ke singapura, dilanjutkan ke malaysia, lalu sri lanka. terbanglah kami hingga karachi – pakistan. belum ada masalah ambil gambar disana, hingga malamnya internet lancar, saya mengirimkan berita utuh, lengkap, sendiri. sedikit bangga, karena ternyata saya bisa, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, pasti banyak gagalnya, siap-siap SK (selesai karier).

bantuan datang! ya, beberapa peserta rombongan, membantu membawakan tripod, tas beisi perkakas berat, dan mau memegangi kamera ketika saya oncam. Alhamdulillah.

Rasa percaya diri kemudian timbul, sungguh tadinya saya minder, dari tvone yang dikirim adalah salah satu produser andalan mereka yang menguasai isu konflik timur tengah, dari republika yang dikirim adalah wartawan senior, lulusan al-azhar kairo. saya anggap ini belajar sekaligus ujian. jika gagal, saya siap dicemooh orang-orang sekantor, dan kemungkinan terburuk SK (Selesai Karier).

Konvoi berjalan mulus, tanpa ada gangguan berarti, balouchistan bisa kami lewati, masuk Iran disambut bagai tamu negara, hingga presiden ahmadinejad menjamu kita.

cuaca mulai tidak bersahabat, saya tidak terbiasa, mulai bersin-bersin. selalu ada saja bantuan, teman relawan memberikan saya: tolak angin (maaf bukan iklan, tapi kenyataannya, mujarab). berita dapat dikirim, meskipun sudah diendapkan beberapa hari, karena perjalanan nonstop. kami hanya singgah di mesjid, atau pom bensin.

saya ingat, waktu ke istana pahlevi, kamera tidak diperkenankan masuk. teman dari iran, meawarkan bantuan, untuk menitipkan kamera di mobilnya, tanpa penjagaan. saya keberatan, lebih baik saya diluar saja, menunggu rombongan selesai keluar istana, toh ini hanya jamuan saja berkunjung ke museum, dari frame berita tidak penting. lagipula, kamera kantor merupakan amanah, mahal pula, jika hilang saya belum tentu bisa mengantinya dengan yang baru. selama 3 jam saya menunggu, uang tidak ada! sudah habis beli makan kemarin-kemarin, tinggal dollar, yang tidak diterima. hanya ada 100 ml air mineral (kira-kira ukurannya segitu) dan 6 batang marlboro. udara dingin. air beku. cuma rokok satu-satunya cara supaya sedikit lupa dengan haus dan lapar.

saling terikat satu sama lainnya mulai terasa, apalagi merasa seperti satu keluarga, 24 rombongan dari Indonesia, di negara orang, kampanye damai membebaskan palestina, kadang kami asyik sendiri. banyak diskusi serius, hingga bercanda mengiringi perjalanan kami. saya mulai merasa nyaman dengan orang-orang disekeliling saya.

kadang saya lepaskan atribut saya sebagai wartawan, ketika tidak dibutuhkan, sama-sama makan makanan aneh, mengecap abon yang alhamdulillah nikmatnya, kecap, saus sambal, dan teri kacang, yang kami buka sedikit saat di mershin – turki, rasanya nikmat sekali.

live report berjalan dengan lancar, semua pekerjaan berjalan dengan sangat baik. meskipun saya dan beberapa teman lainnya sempat ditinggal di ankara-turki, saat mencari simcard, untuk internet dan koordinasi dengan jakarta. marah, pasti, kok tega-teganya ketua rombongan meninggalkan kita? mungkin kala itu ia terdesak dengan rombongan negara lain, pun juga karena tidak diperbolehkan lama-lama di depan kedubes israel.

Marah, karena merasa bangsa diremehkan, marah karena kok mau – mau saja diremehkan, sempat jadi batu sandungan saya, luapan emosi di kapal, menuju lebanon, tidak terhindarkan, untungnya ustad-ustad yang baik hati mengingatkan saya untuk tetap tenang.

itu satu-satunya kesalahan saya sebagai jurnalis, menggunakan emosi, karena saya merasa sebagai bagian dari rombongan. tapi sebagai mahluk ciptaan tuhan, wajib hukumnya.

berbicara tentang marah, saya jadi lebih mengerti perasaan cameraman saat sedang konsentrasi ambil gambar, lalu diganggu, saya lami hal serupa, saya didorong oleh polisi saat sedang asyik ambil gambar, saya marah-marah, tapi percuma mereka tidak tahu bahasa inggris.

hingga tiba di jordania, kami makin kompak…hingga induk semang tempat kami menyewa apartment, memanfaatkan kesempatan. well, hari palestina, aksi di perbatasan, sebagai penutup liputan saya, semua berjalan dengan lancar, dari hari pertama hingga hari terakhir saya menapakkan kaki di timur tengah.

selama konvoi, pada gilirannya saya berhenti memikirkan, “newsroom puas nggak sih sama kerja gua” just let it be. entah kenapa saya punya feeling bagus kala itu.

tidak terasa, tidur dari mesjid ke mesjid, duduk beberapa hari di bus, memanfaatkan kesempatan berhenti di pom bensin untuk isi segala baterai, sudah lupa rasanya dingin seperti apa, hingga saya bawa oleh-oleh sakit punggung sampai jakarta, alat-alat kantor yang begitu berat,banyak,besar, dan harus dijaga, kendala bahasa hingga saya menggunakan bahasa isyarat, jantung mau copot di balouchistan, check point 2 jam sekali, sepanjang malam tidak bisa tidur ingat film babel, takutnya da sniper dari balik gunung. malam-malam masuk ke markas hisbullah, dikira mau apa, tidak tahunya dijamu makan malam, akhirnya saya dapat prespektif yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, apalagi yang saya takutkan tidak terjadi. bisa pulang dengan selamat, membawa kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan, punya saudara-saudara baru, yang insya allah jika tiba waktunya nanti akan dikumpulkan kembali di alam barzah.

mungkin cerita ini kurang detail, hanya ada di memori saya detailnya. lebih baik begitu, saya simpan lagi untuk anak cucu saya kelak. karena industri ini sangat dinamis, tidak baik menyimpan memori indah untuk dikenang tiap hari, karena saya bukan siapa-siapa besok, atau lusa.

PS. saya buang air besar, dari sri lanka hingga jordan, kotoran saya ada di…setidaknya 8 negara! ahahahaha (oke, cuekin aja bagian yang ini)

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung, Sarapan dingin

Chiang rai, night bazaar

Chiang rai terletak di dataran tinggi utara thailand dan berbatasan langsung dengan myanmar dan laos. Jaraknya 891 km dari kota bangkok. Populasinya sekitar 200 ribu jiwa.

Sama seperti pasar malam lainnya dimanapun, ramai dan banyak barang2 unik yg dijual. Wisatawan serasa wajib datang kesini, karena inilah tempat paling ramai di kota chiang rai. lepas pukul delapan malam, kota ini sudah mulai tidur.

Berbagai macam produk kreatif dijajakan, tetapi tantangan tersendiri bagi pelancong, karena kendala bahasa. Mayoritas penjual disini tidak Bisa berbahasa inggris.

Untuk transaksi tidak masalah, tetapi untuk bertanya tentang filosofi dan asal usul kerajinan tangan yang akan dibeli, bisa jadi membuat frustasi.
Kadang bahasa paling dasar, seperti bahasa isyarat tubuh jurus paling ampuh untuk bertanya.

Saya beruntung menemukan satu toko, yang penjualnya bisa berbahasa inggris, ia menjual hasil kerajinan tangan dari komunitas kecil di pelosok chiang rai. Topi, dompet, tas, pakaian, menggunakan motif kain khas, dengan sedikit modifikasi apa yg turis inginkan. Cerdas!

Barang-barang yang dijual relatif murah, mulai dari lima ribu rupiah, hingga ratusan ribu. Percampuran budaya sangat kental, dilihat dari barang2 yang dijual. Motif-motif kain, tidak ikut pakem sutera khas thailand pada umumnya, tetapi ada unsur motif kain suku-suku di pelosok myanmar. Berbatasan langsung dengan myanmar, sebagian suku akha, lahu, palong, lu mien yao dan karen, ada di chiang rai.

Salah satunya adalah perempuan suku akha yang berjualan di chiang rai night bazaar, menggunakan pakaian adat yang dieebut piehong, ramai dengan manik2 mencolok.

Disini juga tersedia 40 counter makanan, dengan menu yang kebanyakan seragam. Puas berbelanja, wisatawan bisa langsung makan malam.

Ada makanan yang menurut saya tidak lazim dijual di tempat umum, dan langsung menyita perhatian saya. Serangga. Salah satu menu pokok suku akha.Dengan harga 30 bath, atau sekitar 9000rupiah serangga renyah siap disajikan jadi cemilan murah, tapi berprotein.

Makan serangga bukan bagian terbaik, tetapi melihat betapa chiang rai bebenah untuk siap menyambut wisatawan, padahal jauh dari pusat dan terletak di perbatasan, membuat saya iri. Kapan indonesia bisa begini?

20120619-163204.jpg

20120619-163222.jpg

20120619-163236.jpg

20120619-163246.jpg

20120619-163255.jpg

20120619-163319.jpg

2 Comments

Filed under jalankaki

Karachi’s snack stories

Ngemil Kuaci di Karachi

20120528-010056.jpg

Karachi tidak begitu menarik dikunjungi, sedikit obyek wisata yang bisa dieksplore disini. Isu keamanan juga menjadi kendala itu yang dibicarakan banyak orang. Tapi, cobalah jalan-jalan ke pusat kota karachi, banyak jajanan yang ternyata bikin kita tidak habis pikir, cemilan aneh mudah sekali ditemui, street food di karachi punya cerita lain.

Paan

20120528-005423.jpg

Favorit warga karachi. Campuran supari, sirup gula, kacang areca dan rempah-rempah, ditaburi parutan kelapa, dan gula dibalut daun betel lalu dikunyah. Serius, awanya mual, tapi setelah 1 menit terus dikunyah, mulut sewangi mawar, semacam nyirih, tapi ini dilakukan orang-orang se karachi, kebanyakan laki-laki.

Supari

Kayu menyan dan biji areca di tumbuk kasar, jadi potongan kecil seukuran pastilles, rasanya manis campur sepet, mulut langsung bau dukun. Banyak merek yang dijual, yang paling terkenal adalah seven up, jenisnya juga banyak, ada yang asli dari kayu menyan, dan ada yang buatan. Dijual di warung-warung seharga 1 rupee. Lagi-lagi kebanyakan yang makan laki-laki.

Jus jeruk

20120528-005539.jpg

Biasa saja sih, tetapi displaynya unik, tukang jus pinggir jalan biasanya mangkal di belakang halte, orang-orang karachi suka sekali yang masam.

Biji-bijian & kacang-kacangan

20120528-005724.jpg

Seperti tidak ada habis-habisnya mengunyah, dari jagung, kwaci, hingga kacang-kacangan, mudah ditemui di karachi, rasanya agak aneh dilidah orang indonesia, campuran asin dan getir dilidah, khusus kuaci, rasanya terlalu manis bagi lidah kita.

Cemilan-cemilan ini bisa dinikmati di pinggir jalan, sambil melihat banyak keunikan-keunikan karachi.

20120528-005810.jpg

Leave a comment

Filed under jalankaki

Ney, Turkish Flute

20120526-031449.jpg

Sumber gambar: kim sanders, world music

Saat ke Turki, salah satu kota yang sempat saya singgahi adalah Konya. Kota asal Rumi, di mana banyak sekali rumah dan hotel disekitaran makam rumi, yang dikhususkan untuk belajar sufi. Tidak jauh dari makam rumi, kita dapat menemukan pasar rempah dan pernak pernik khas konya, dan perhatian saya tertuju pada salah satu toko oleh-oleh yang menjual CD musik khas turki.

Ada album berjudul Ney, the sufi. Ney merupakan alat musik tiup, sejenis flute merdu sekali. Di album itu ada satu lagu berjudul Take a look at me now, si penjaga toko bilang, itu permainan instrumen saja, tapi artinya sangat bermakna, lagu itu seperti berbicara: tuhan, lihatlah aku, mahluk yang tak layak kau lihat ini, inin dilihat sekarang…berulang-ulang saya mendengarnya, hingga menjadi lagu wajib pengantar tidur, dan sudah jadi menu andalan di ipod saya.

Pejamkan mata, dan saya berada di dalam ruangan gelap, tenang. Blissful dapat ditemukan dimana saja, termasuk dari tiupan seorang maestro dengan ney kesayangannya.

20120526-031138.jpg

Salah satu sudut konya

Leave a comment

Filed under good music, jalankaki