Monthly Archives: April 2013

Selamat Tinggal Elang Biru

Awal november 2009, saya pulang usai interview terakhir dengan metro tv. Rasanya seperti kemarin. Karena tidak tahu angkot apa yang harus dinaiki, saya jalan kaki menuju jembatan penyebrangan terdekat, jaraknya kira-kira satu km. Di atas jembatan, saya menoleh kembali ke gedung dengan logo burung yang lama, ipod saya masih memutarkan lagu muse-victorious, berhenti sejenak, membidik ke arah gedung dengan posisi tangan seolah-olah sebagai AK 47 dan berkata “I will take you down”

Maksud saya kala itu, saya yakin lolos seleksi JDP, prosesnya lama dan sulit, sedangkan saingannya pun juga tidak sembarangan. Tekad sudah bulat, jadi reporter metro tv, dan bisa menaklukan tantangan yang ada, apapun itu.

Lalu saya membayangkan hidup saya beberapa tahun kedepan seperti gabungan soe hok gie & goenawan muhammad. Jadi wartawan idealis, bekerja untuk jadi pintar, dan memulai hidup bersahaja.

Reality check.

Setelah mengikuti kelas satu bulan, saya bersama teman-teman seangkatan magang di Media Indonesia, dan saya merasa benar-benar jadi wartawan. Soliter, dan mengikuti segala aspek teknis yang pernah dipelajari di kelas…yaa dengan sedikit penyesuaian. Indonesia vs Qatar di GBK, momen yang tidak terlupakan, saya merasakan histeria fans sepak bola timnas! dan ingat, seseorang memasuki lapangan karena kecewa timnas kalah. Lalu merasakan hidup di bui, untuk buat feature tentang penjara, saat itu sedang ramai-ramainya kasus arthalita suryani yang mendapat fasilitas mewah di penjara. LP yang saya coba dalam 8 jam, adalah LP minim fasilitas. Pertama kalinya center spread di Media Indonesia! Setelah itu, magang di MI ditutup dengan liputan demo besar-besaran 100 hari SBY di depan Istana Negara, bisa duduk sambil tidur-tiduran di jalan protokol yang biasanya ramai, saya begitu takjub.

Kembali ke Metro TV, masuk kelas lagi satu bulan. Setelah itu…liputan patroli, shift 4 dari malam hingga pagi. Baru mau lolos dari holy shift itu, saya digrounded karena live report pertama kali di Koja, gagal. Gagal secara penampilan, karena dasi miring, dan kebetulan bos nonton. Kembali lagi merasakan holy shift selama tiga bulan. Badan sempat kurus hingga berat saya 54 kg! Tapi untungnya tidak pernah rubuh.

Setelah bebas dari holy shift, baru senang-senangnya dapat penugasan di desk ekonomi, dan harus BKO ke Makassar.

Bertemu banyak teman, dan impian saya untuk merasakan sunset saat pulang kerja terealisasi, bahkan lebih indah. Sunset di pantai losari, dan segelas bir di popsa (cafe pinggir pantai). Sebulan kemudian, saya BKO ke Surabaya, merasakan pertama kalinya Ramadhan tanpa orang tua. Liputan yang menyenangkan, pergi ke tempat-tempat tak terduga, masjid turen, goa muhammad, dan pertama kalinya ke lumpur lapindo.

Satu bulan setengah saya lewati di Surabaya, saat kembali ke Jakarta, dirolling ke program bernama Genta Demokrasi. Awalnya risih, karena tidak menyukai politik sama sekali, tanpa diduga, malah saya bisa pergi ke tempat-tempat paling indah di Indonesia, Flores, TMK Komodo, Buton, bau bau, Raha, dan…saya lupa apa lagi.

tujuh bulan di genta demokrasi, lalu dirolling lagi ke reguler (berita harian). Awalnya tugas-tugas biasa, lalu mulailah secara random, korlip menugaskan saya ke tempat-tempat berbahaya. Sungguh saya tidak mau awalnya, tapi yang namanya penugasan? Harus dijalani. Palu, Poso, Bima, Ambon, dan mesuji penutup tahun 2011. Ya Teroris, ya konflik komunal, apalah, dari sini, saya mulai melihat dunia luar, begitu naifnya hidup saya selama ini, Ditambah penugasan ajaib, konvoi global march to jerusalem, jalur darat, melewati lebih dari sembilan negara selama satu bulan lebih. Di sinilah mata saya kembali terbuka melihat dunia luar, timur tengah konflik abadi israel & palestina, mendapatkan pemahaman yang sangat luas dari guru-guru selama perjalanan. Wartawan senior republika, tv one, relawan mer-c, hingga ustad-ustad dari aqsa working group, yang selalu sabar menjawab semua pertanyaan bodoh saya selama perjalanan.

Belum berakhir di Jerusalem, mirisnya kehidupan TKI di Sabah, konflik komunal aliran tajul muluk di sampang, hingga lagi-lagi konflik bau sara di balinuraga & sumbawa besar. Semakin membuat saya berpendapat, kita sebagai manusia begitu lemahnya, dan begitu mudah terperdaya.

Oh iya, belum liputan nempel Foke! Konflik batin harus bisa bikin berita yg ga tendensius tapi juga ga bisa kritik, tantangan juga sih, tapi untung aja cuma dua bulan.

Musim banjir, juga merupakan tantangan tersendiri bagi wartawan tv, baru pertama kalinya melihat thamrin sudirman lumpuh, disusul beberapa daerah seperti pluit dan penjaringan. Sempat gatal-gatal seminggu usai liputan banjir, tapi jika semua dijalani dengan ikhlas, gatal-gatalnya hilang dengan sedirinya.

Masalah keselamatan selama liputanpun juga mulai mengusik saya. Hingga puncaknya saya menolak tugas untuk naik hercules sebar garam ke udara mencegah hujan besar di jakarta. Meskipun konsekuensinya berat, tapi saya yakin saya sudah membuat keputusan Yang tepat, karena tidak ada jaminan keselamatan, pun begitu berisiko untuk sebuah berita yang magnitudenya sudah basi.

Keselamatan bagi jurnalis inilah yang membuat saya tersadar, betapa pentingnya perhitungan presisi saat liputan, malaikat pelindung tidak selamanya berada di depan kita kan?

Liputan terakhir saya di metro tv adalah tentang kasus cebongan. Enough said.

Tahun ini, saya putuskan untuk expand, melihat dunia lainnya. Meninggalkan metro tv, yang telah memberikan saya begitu banyak realitas diluar sana untuk dicermati, ditambah teman-teman kerja yang serasa seperti teman-teman saat kuliah, mendapatkan keluarga baru, yang agak berat untuk ditinggalkan.

Well, life must go on, tantangan baru di depan mata, kompas tv menjadi tempat bagi saya untuk meneruskan ibadah saya. Menjadi seseorang yang dipercaya untuk menyebarkan syiar berguna bagi masyarakat.

20130413-135657.jpg

Advertisements

5 Comments

Filed under renungan relung