Monthly Archives: November 2012

The Anger and The Hanger from sampang to kalianda

I started to re-think, what happened with us recently. From the red land, Madura to sumatera’s gate; Lampung.

Sampang, Madura, provinsi di Indonesia yang masih miskin sampai sekarang, padahal potensinya begitu besar. Pemerintah daerah tidak mau ambil pusing, atas musibah yang menimpa ratusan kepala keluarga. Rumah mereka dibakar, karena cara mereka sholat berbeda. Bisa dibilang ini merupakan isu sara, tapi saya lebih memilih untuk berbicara dengan menggukanan isu perbedaan aliran, yah terserahlah, toh intinya sama, ada yang dirugikan. Madura merupakan pulau religi, nilai tradisional dengan kiai sebagai pemuka agama yang digugu menjadi pedoman rakyatnya. Boleh jadi, mereka lebih percaya kiai ketimbang presiden. Para pemuka agama dari empat kabupaten sepakat untuk mengislamkan kembali Tajul muluk beserta pengikutnya. Itu harga mati.

Ratusan orang menyerang kampung syiah aliran tajul muluk, ia dianggap penyebar aliran sesat. Sesat darimana? Sesat karena tidak sepaham?atau sesat karena penghasilan para ustad berkurang, sebab kultur maulid nabi yang biasanya mengongkosi ustad yang bertamu ke rumah-rumah warga, hingga bisa dibelikan sepeda motor, mulai ditinggalkan, khususnya bagi tajul muluk dan pengikutnya.

Lepas dari dilema perut dan keyakinan, apakah sah, mengumpulkan massa salah kaprah, untuk menyerang, dan merusak, kalau sudah terjadi, apa mau ganti rugi di dunia maupun akhirat?

Padahal bila kita endus bumbu konfliknya, masalahnya malah lucu, karena asmara! Siapa sih sebenarnya yang waras di sini?

Kenapa kita begitu mudahnya dihasut…

Frame yang hampir sama terjadi di Lampung baru-baru ini, desa balinuraga, sebuah desa cluster bali (meskipun terselip rumah-rumah non bali) dihancurkan oleh puluhan ribu orang. Teorganisir? Pasti. Massa dari beberapa desa berkumpul untuk menghancurkan balinuraga, desa transmigran dari tahun 70an, yang kini maju pesat. Hancur karena doktrin kebencian, yang juga…lagi-lagi pemicunya adalah masalah sepele. Perempuan. Dua orang perempuan mengaku telah dilecehkan oleh pemuda dari desa balinuraga, marah lantas mengumpulkan massa, untuk menyerang desa balinuraga.

Pause.

Jika yang bersalah satu orang, kenapa satu desa kena getahnya. 12 nyawa melayang. Saya sempat lihat proses ngaben, sembilan jenazah yang hampir semuanya berusia paruh baya, dan satu remaja, doa pengiring kremasi dibacakan, dan sungguh, saya terhanyut. Lilatlah tangis janda-janda itu… Ibu, anak…

Lalu mengapa mereka yang kena getahnya.

Kini proses pemulihan sedang berjalan, warga sudah kembali dari penampungan ke desa balinuraga, membangun rumah mereka.

Kenapa begitu mudah kita terhasut, lalu berbuat onar seperti yang paling berkuasa, bisa saya kutip pernyataan dari teman saya, Janes Simangusong, partner liputan di Kalianda: mengapa meributkan tanah, yang ternyata milik tuhan, toh kita manusia di sini hanya menumpang.

20121106-145357.jpg

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung