Story from middle east

Pertama kali mendengar penugasan, ikut konvoi jalur darat, dari India ke Perbatasan Palestina, jujur kaget! lebih kaget lagi harus jalan sendiri, berperan sebagai reporter, cameraman, dan editor. lantas saya sempat bilang ke bos, bukannya menolak tugas, tapi apa pantas saya diberikan kepercayaan untuk liputan sendirian? bagi saya tanpa sparing partner, tanpa bekal teknis kamera? lebih baik serahkan tugas ini pada orang yang jauh lebih kompeten, apalagi saya tidak memiliki pengetahuan banyak tentang konflik timur tengah. Masih ada waktu dua minggu untuk belajar, itu kalimat yang dikatakan orang yang memberi saya tugas. Baiklah, saya laksanakan.

Banyak sekali “what if” di kepala saya selama dua minggu sebelum berangkat:
1. gimana kalo saya nggak bisa operasikan kamera
2. gimana nanti pas live report
3. lalu, apa kabarnya koneksi internet?
4. oh iya, bahasa arab?
5. gimana kalo nanti nggak bisa kiroim berita
6. apa mereka (orang-orang dari negara yang saya singgahi) ramah media?
7. gimana kalo saya diculik
8. gimana kalo saya pulang tinggal nama?
9. gimana kalo saya ketinggalan konvoi
dan masih banyak “what if” lainnya kala itu. jujur saya takut. saya mencontoh seorang sahabat tentang makna pasrah. usaha, biar selebihnya tuhan yang mengatur.

Allah SWT benar-benar mengatur segalanya. banyak orang-orang baik, yang memberikan saya pelajaran berharga. tidak hanya itu, mereka rela meminjamkan propertinya, untuk saya gunakan demi tugas sebulan, dan lebih-lebih sabar mengajari saya teknik menggunakan kamera.

selama dua minggu, belajar instan, urus visa, meeting dengan romobongan konvoi, datanglah hari H, yang ternyata dipercepat satu hari. paniklah saya!

persiapan alat sejak pagi. saya sama sekali tidak memikirkan barang bawaan pribadi, yang penting ada minyak kayu putih, long jhon, dan jaket.

satu tantangan lagi, saya harus pandai-pandai menutup tato, yang kadang-kadang malu-malu muncul dari balik kaos. Saya ikut rombongan ustad dari alfatah, relawan mer-c, dan VOP, lebih baik ditutup sementara, untuk menghormati mereka.

wartawan yang ikut rombongan konvoi, dari tvone, dan republika, mereka seperti guru sebulan dalam kuliah timur tengah bagi saya.

Dari Indonesia, langsung ke singapura, dilanjutkan ke malaysia, lalu sri lanka. terbanglah kami hingga karachi – pakistan. belum ada masalah ambil gambar disana, hingga malamnya internet lancar, saya mengirimkan berita utuh, lengkap, sendiri. sedikit bangga, karena ternyata saya bisa, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, pasti banyak gagalnya, siap-siap SK (selesai karier).

bantuan datang! ya, beberapa peserta rombongan, membantu membawakan tripod, tas beisi perkakas berat, dan mau memegangi kamera ketika saya oncam. Alhamdulillah.

Rasa percaya diri kemudian timbul, sungguh tadinya saya minder, dari tvone yang dikirim adalah salah satu produser andalan mereka yang menguasai isu konflik timur tengah, dari republika yang dikirim adalah wartawan senior, lulusan al-azhar kairo. saya anggap ini belajar sekaligus ujian. jika gagal, saya siap dicemooh orang-orang sekantor, dan kemungkinan terburuk SK (Selesai Karier).

Konvoi berjalan mulus, tanpa ada gangguan berarti, balouchistan bisa kami lewati, masuk Iran disambut bagai tamu negara, hingga presiden ahmadinejad menjamu kita.

cuaca mulai tidak bersahabat, saya tidak terbiasa, mulai bersin-bersin. selalu ada saja bantuan, teman relawan memberikan saya: tolak angin (maaf bukan iklan, tapi kenyataannya, mujarab). berita dapat dikirim, meskipun sudah diendapkan beberapa hari, karena perjalanan nonstop. kami hanya singgah di mesjid, atau pom bensin.

saya ingat, waktu ke istana pahlevi, kamera tidak diperkenankan masuk. teman dari iran, meawarkan bantuan, untuk menitipkan kamera di mobilnya, tanpa penjagaan. saya keberatan, lebih baik saya diluar saja, menunggu rombongan selesai keluar istana, toh ini hanya jamuan saja berkunjung ke museum, dari frame berita tidak penting. lagipula, kamera kantor merupakan amanah, mahal pula, jika hilang saya belum tentu bisa mengantinya dengan yang baru. selama 3 jam saya menunggu, uang tidak ada! sudah habis beli makan kemarin-kemarin, tinggal dollar, yang tidak diterima. hanya ada 100 ml air mineral (kira-kira ukurannya segitu) dan 6 batang marlboro. udara dingin. air beku. cuma rokok satu-satunya cara supaya sedikit lupa dengan haus dan lapar.

saling terikat satu sama lainnya mulai terasa, apalagi merasa seperti satu keluarga, 24 rombongan dari Indonesia, di negara orang, kampanye damai membebaskan palestina, kadang kami asyik sendiri. banyak diskusi serius, hingga bercanda mengiringi perjalanan kami. saya mulai merasa nyaman dengan orang-orang disekeliling saya.

kadang saya lepaskan atribut saya sebagai wartawan, ketika tidak dibutuhkan, sama-sama makan makanan aneh, mengecap abon yang alhamdulillah nikmatnya, kecap, saus sambal, dan teri kacang, yang kami buka sedikit saat di mershin – turki, rasanya nikmat sekali.

live report berjalan dengan lancar, semua pekerjaan berjalan dengan sangat baik. meskipun saya dan beberapa teman lainnya sempat ditinggal di ankara-turki, saat mencari simcard, untuk internet dan koordinasi dengan jakarta. marah, pasti, kok tega-teganya ketua rombongan meninggalkan kita? mungkin kala itu ia terdesak dengan rombongan negara lain, pun juga karena tidak diperbolehkan lama-lama di depan kedubes israel.

Marah, karena merasa bangsa diremehkan, marah karena kok mau – mau saja diremehkan, sempat jadi batu sandungan saya, luapan emosi di kapal, menuju lebanon, tidak terhindarkan, untungnya ustad-ustad yang baik hati mengingatkan saya untuk tetap tenang.

itu satu-satunya kesalahan saya sebagai jurnalis, menggunakan emosi, karena saya merasa sebagai bagian dari rombongan. tapi sebagai mahluk ciptaan tuhan, wajib hukumnya.

berbicara tentang marah, saya jadi lebih mengerti perasaan cameraman saat sedang konsentrasi ambil gambar, lalu diganggu, saya lami hal serupa, saya didorong oleh polisi saat sedang asyik ambil gambar, saya marah-marah, tapi percuma mereka tidak tahu bahasa inggris.

hingga tiba di jordania, kami makin kompak…hingga induk semang tempat kami menyewa apartment, memanfaatkan kesempatan. well, hari palestina, aksi di perbatasan, sebagai penutup liputan saya, semua berjalan dengan lancar, dari hari pertama hingga hari terakhir saya menapakkan kaki di timur tengah.

selama konvoi, pada gilirannya saya berhenti memikirkan, “newsroom puas nggak sih sama kerja gua” just let it be. entah kenapa saya punya feeling bagus kala itu.

tidak terasa, tidur dari mesjid ke mesjid, duduk beberapa hari di bus, memanfaatkan kesempatan berhenti di pom bensin untuk isi segala baterai, sudah lupa rasanya dingin seperti apa, hingga saya bawa oleh-oleh sakit punggung sampai jakarta, alat-alat kantor yang begitu berat,banyak,besar, dan harus dijaga, kendala bahasa hingga saya menggunakan bahasa isyarat, jantung mau copot di balouchistan, check point 2 jam sekali, sepanjang malam tidak bisa tidur ingat film babel, takutnya da sniper dari balik gunung. malam-malam masuk ke markas hisbullah, dikira mau apa, tidak tahunya dijamu makan malam, akhirnya saya dapat prespektif yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, apalagi yang saya takutkan tidak terjadi. bisa pulang dengan selamat, membawa kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan, punya saudara-saudara baru, yang insya allah jika tiba waktunya nanti akan dikumpulkan kembali di alam barzah.

mungkin cerita ini kurang detail, hanya ada di memori saya detailnya. lebih baik begitu, saya simpan lagi untuk anak cucu saya kelak. karena industri ini sangat dinamis, tidak baik menyimpan memori indah untuk dikenang tiap hari, karena saya bukan siapa-siapa besok, atau lusa.

PS. saya buang air besar, dari sri lanka hingga jordan, kotoran saya ada di…setidaknya 8 negara! ahahahaha (oke, cuekin aja bagian yang ini)

Advertisements

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung, Sarapan dingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s