Parsi-Dinejad

Ada film animasi, hitam putih. Persepolis judulnya, sama dengan bukunya, Marjane Satrapi berhasil menuangkan konten revolusi Iran yang berat, dalam grafis konyol ala satrapi. Ketika melihat Iran kini, yang tidak berbeda jauh dengan gambaran cerita satrapi, saya mulai menyimpulkan bahwa orang Iran sangat bangga dengan ke-parsiannya, ditambah lagi dengan aliaran syiah, yang mayoritas mereka anut.

Kebanyakan mahasiswa asal Indonesia berada di kota Qom, belajar ilmu syiah, Qom dianggap sebagai kota suci bagi kaum syiah, sementara mahasiswa Iran kebanyakan lebih suka menjadi ilmuwan. Rumah-rumah di Iran seragam, begitupun dengan mobilnya, di Tehran misalnya, kota yang sangat rapih, mengongatkan saya seperti Toronto, tapi lebih eksotis. Masyarakat kota Tehran menyesuaikan gaya berpakaian mereka layaknya orang eropa, yang muda khususnya perempuan, tetap menggunakan kerudung (bukan jilbab) memperlihatkan poni pirang mereka, sebagian ada yang masih menggunakan hijab hitam, tapi dibalik itu semua, jeans ketat dengan sepatu boots.

Selama di Iran, saya sedikit banyak sumpah serapah, karena tidak sedikit orang-orang di sana memandang bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tidak tahu apa-apa, kebanyakan orang Iran jago adu argumen, saya akui memang masyarakat Iran berpikiran maju, tetapi tertutup. Mereka layak sombong karena, dari segala embargo yang dilakukan, produk lokal begitu mendominasi, ekonomi masyarakat bergeliat, mulai dari toko kelontong lokal, hingga burger kebab ala iran. Mereka tidak pernah melihat dunia, dunia sudah cukup ada di iran. Salut.

Ada satu hari saya berkesempatan bertemu dengan Ahmadinejad, dia pidato tentang kolonialisme modern yang dilakukan zionis terhadap palestina, kolonialisme yang pernah dirasakan Indonesia selama ratusan tahun. Sedikit ngobrol dengan Ahmadinejad, satu dua patah kata, dia hanya tersenyum (sorry I dont speak parsi sir). Media asing seperti tabu di Iran, kami (awak media) tidak diperkenankan membawa kamera pro, hingga ponsel. Tapi entah kenapa tuhan memberikan saya sedikit otak yahudi, saya bisa membawa masuk ponsel saya, mengabadikan momen penting ini.

Setelah shah, rezim baru muncul, rezim islami yang dikritik marjane, rezim khomaeni, Sebuah reim Anti barat, tetapi modern. Tapi saya dengar cerita tentang persaingan ketat antara rafsanjani dan ahmadinejad, keduanya memiliki pandangan berbeda, yang muda mendukung rafsanjani karena “pro barat” dan memihak pada era keterbukaan, sedangkan ahmadinejad sebaliknya.

Lewat beberapa bulan, saya buka lagi buku persepolis, dan sekarang begitu merindukan suasana iran, entah kenapa.

20120525-161100.jpg

20120525-161219.jpg

Advertisements

Leave a comment

Filed under jalankaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s