Cerita malam natal tahun lalu

Tahun lalu, libur natal saya habiskan di flores. Saya tidak merayakannya, jadi saya gunakan hari libur itu untuk liputan.

Sore menjelang waktu maghrib, saya diundang Papa Jo, penggiat ecotourism di labuan bajo. Ada seorang seniman belanda, bersama istrinya, juga keluarga papa jo dari jakarta. 

Kami ngobrol panjang lebar di belakang rumah kayu, rumah itu berdiri di ujung tebing, dengan pemandangan laut flores, beserta pulau-pulau kecil terdekat. Matahari terbenam, Papa jo mengeluarkan hidangan pamungkasnya: Ikan blue marlin, dengan bumbu-bumbu yang dipotong ala kadarnya, dan disiram arak, kami menyebutnya sushi ala bajo. Rasanya gurih, masam dengan irisan sayur & bumbu cacah yang entah kenapa mendekati surga. Papa Jo lalu membuka satu botol wine (saya lupa apa namanya) yang jelas, meskipun winenya kelas rakyat, tapi serasa ada di resort super mahal. 

Malamnya, saya diajak pater marcel agot, untuk berkeliling merayakan malam natal. Pater ke rumah salah satu jemaatnya. Sebelumnya pater sudah berpesan pada si tuan rumah, akan ada tamu di malam natal beragama islam.

Bir sudah disajikan, ada babi kecap, dan bagi yang muslim, ayam kecap tersedia, dengan nasi khas labuan bajo, nasi merah. Well, I ate babi kecap too :p maklum lapar.

Selanjutnya, Sudah larut malam, pater mengantar saya ke asrama pastoran, tempat saya menginap di labuan bajo, samar-samar terdengar nyanyian di gereja samping asrama, inilah yang saya sebut, lullaby, terlalu kenyang, sedikit mabuk, dan mendengar paduan suara berlatih untuk perayaan natal besok.

Paginya, di labuan bajo, ada pawai natal, beberapa truk, dan mobil konvoi, semua mengenakan pakaian terbaiknya, banyak yang mengenakan aksesori khas santa claus.

Saya belajar, betapa keberagaman bisa terasa begitu indah, ketika kita bisa menikmatinya. Soal iman, hanya kita dan tuhan yang tahu, apalagi keyakinan. Ketika kita sudah memutuskan untuk mengimani apa yang kita yakini, saat itu pula saya sadar, tuhan tidak pernah membuat sedikit perbedaan antar sesama. Manusialah yang mengkondisikan dirinya berbeda dari yang lain. Then I said subhanallah, Allahuakbar.

Advertisements

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s