Monthly Archives: December 2011

Cerita malam natal tahun lalu

Tahun lalu, libur natal saya habiskan di flores. Saya tidak merayakannya, jadi saya gunakan hari libur itu untuk liputan.

Sore menjelang waktu maghrib, saya diundang Papa Jo, penggiat ecotourism di labuan bajo. Ada seorang seniman belanda, bersama istrinya, juga keluarga papa jo dari jakarta. 

Kami ngobrol panjang lebar di belakang rumah kayu, rumah itu berdiri di ujung tebing, dengan pemandangan laut flores, beserta pulau-pulau kecil terdekat. Matahari terbenam, Papa jo mengeluarkan hidangan pamungkasnya: Ikan blue marlin, dengan bumbu-bumbu yang dipotong ala kadarnya, dan disiram arak, kami menyebutnya sushi ala bajo. Rasanya gurih, masam dengan irisan sayur & bumbu cacah yang entah kenapa mendekati surga. Papa Jo lalu membuka satu botol wine (saya lupa apa namanya) yang jelas, meskipun winenya kelas rakyat, tapi serasa ada di resort super mahal. 

Malamnya, saya diajak pater marcel agot, untuk berkeliling merayakan malam natal. Pater ke rumah salah satu jemaatnya. Sebelumnya pater sudah berpesan pada si tuan rumah, akan ada tamu di malam natal beragama islam.

Bir sudah disajikan, ada babi kecap, dan bagi yang muslim, ayam kecap tersedia, dengan nasi khas labuan bajo, nasi merah. Well, I ate babi kecap too :p maklum lapar.

Selanjutnya, Sudah larut malam, pater mengantar saya ke asrama pastoran, tempat saya menginap di labuan bajo, samar-samar terdengar nyanyian di gereja samping asrama, inilah yang saya sebut, lullaby, terlalu kenyang, sedikit mabuk, dan mendengar paduan suara berlatih untuk perayaan natal besok.

Paginya, di labuan bajo, ada pawai natal, beberapa truk, dan mobil konvoi, semua mengenakan pakaian terbaiknya, banyak yang mengenakan aksesori khas santa claus.

Saya belajar, betapa keberagaman bisa terasa begitu indah, ketika kita bisa menikmatinya. Soal iman, hanya kita dan tuhan yang tahu, apalagi keyakinan. Ketika kita sudah memutuskan untuk mengimani apa yang kita yakini, saat itu pula saya sadar, tuhan tidak pernah membuat sedikit perbedaan antar sesama. Manusialah yang mengkondisikan dirinya berbeda dari yang lain. Then I said subhanallah, Allahuakbar.

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung

Twitter and It’s pleasuring waste

Tahun 2009, twitter menjadi perdebatan saya dengan sepupu. Mempertanyakan fungsinya sebagai microblog. Dia bilang, twitter akan berkembang pesat, patokannya pengguna twitter di amerika. Bagi saya kala itu, buat apa menulis hanya 140 karakter, sama saja seperti sms. Kalau mau ngeblog, ya bikin saja blog, tidak usah buka akun twitter.

Akhir 2009, semakin menjadi- jadi kebiasaan menulis di twitter, hingga hal sepele, semisal telat bangun, dan telat 3 bulan (eh) diumumkan melalu twitter. Sadar tidak sadar fungsinya kala itu bertambah sebagai papan pengumuman.

Mulailah, “pedagang” juga ikut sebagai buzzer, bertambah lagi fungsinya, sebagai ajang berdagang dan promosi.

Beberapa selebritis dunia dan lokal pun juga mendadak sangat extrovert dengan mengumbar kehidupan pribadinya lewat twitter. Ingat beberapa tahun lalu, ngefans dengan Titi Kamal, kita harus berlangganan ke konten provider untuk tahu kehidupan sehari-harinya…ada yang pernah ingat kata-kata Nia Ramadhani “sms yang aku kirim, langsung dari hapeku, bukan dari manajer ku” *kira-kira begitu bunyinya. Ok saya
kala itu nggak pernah berlangganan lho. Nah sekarang, dengan follow @lindsaylohan misalnya, atau @parishilton kita bisa lebih dekat dengan mereka, dan gratis!

2010 merupakan kejayaan twitter, dimana banyak muncul tokoh-tokoh anonim, yang berbicara blak-blakan. Indonesia yang menggandrungi twitter bisa jadi merupakan bangsa pengeluh sekaligus kreatif, bagaimana kata-kata tidak lebih dari 20 kata bisa mempengaruhi orang lain.

Lucunya, banyak demam bintang twitter, yang terjebak untuk Terus twit karena ingin menambah follower *pathetic, 2011 ini, twitter sepertinya masih digandrungi. Akankah nasibnya akan sama seperti friendster di kemudian hari, mungkin iya. Kita lihat saja nanti ketika kicauan mulai sepi dan beralih, mungkin gonggongan atau miaw-an. Selagi masih bisa nyampah di twitter.

Silvano Hajid (beberapa tahun lagi akan bilang: see I told you)

Leave a comment

Filed under Killing time, Uncategorized

The art to be artsy

I do believe everybody has sense of art, wherever they live. You can imagine how arabic women wear their black hijab and burqa, it looks plain black, but look closer, when you see their eyeliner.

Bima’s batik pattern has wildly shocking color, but it’s look so original when local proud to wear it.

The torajas, collected bull’s skulls at their home. As art? Or symbol for wealthy? in my opinion, both are philosophy of toraja’s life.

East Indonesia, has different pattern of their remarkable batik each districts. Manggarai barat – flores, has their unique pattern fabrics, neon color with black background, why it has to be different, some says it has to be different as their identity.

We can find piece of art in any places. I bought elle decoration magazine and found that contemporary makes everything more comfortable. Human civilization proven. I found an idea from that magazine, luxurious coffee table, wait, how come coffee table has it attribute as luxurious? Well, I decided to create coffee table with used egg container, I didn’t spent much money, but it valuable beyond my imagination.

It’s all about how to look good, and how to feel good, art belongs to everybody who has limitless creativity, and it applied to everyone.

Leave a comment

Filed under jalankaki