Amboina, catatan sebulan lalu

Amboina

Rasa. Perjalanan Kali ini ke Kota Ambon. Tempat yang memiliki trauma pada kerusuhan beberapa tahun lalu. Beberapa kericuhan minor kerap terjadi. Minor namun tetap berdampak besar bagi warga kota ambon.

Menurut cerita kapolda maluku, Syarief Gunawan, Maluku 99 merah! Saat itu saya masih sekolah, bahkan tidak mengerti bentrok dengan isu sara begitu mudah

Akhirnya, dengan membawa kumpulan opini banyak orang, positif maupun negatif, saya menginjakkan kaki di amboina untuk yang bertama kalinya. Tidak punya bekal apa-apa hanya santun yang diajarkan orang tua.

Seminggu sudah ricuh berlalu, 11 september 2011, persimpangan trikora, umat kristen mempertahankan gereja silo, sedangkan umat muslim mempertahankan masjid al fatah. Aparat berada di tengah-tengah. Saat saya tiba, suasana masih tegang, namun tidak ada konsentrasi massa. Dua bangkai mobil masih terparkir belum sempat dibersihkan, warga takut keluar rumah. Titik lainnya di waringin-talake, disana puluhan rumah hangus terbakar. Beberapa bangunan di batumerah dan mardikapun juga dibakar. Pagi hingga malam, kota ambon seperti kota mati, hampir semua toko, pasar, tutup. Hanya ada aparat yang sliweran di jalan-jalan utama kota ambon. Empat ribuan pengungsi bertahan di sekitaran talake, komplek al-fatah, dan rumah-rumah kerabat. Lima korban tewas dari peluru aparat.

Hari-hari dilalui, usaha warga kota ambon supaya kota pulih kembali berhasil, kurang dari lima hari, ambon berangsur-angsur normal. Itu hanya dipermukaan, letupan-letupan kecil sering terjadi, namun bisa diredam masing-masing pemuka agama.

Ricuh pecah karena sms, kabar burung tentang tewasnya tukang ojek muslim yang dibunuh di gunung nona wilayah nasrani, begitu cepat beredar. Kerugian yang dialami warga, karena kurangnya aparat keamanan di tkp saat ricuh pecah. Tukang ojek itu, menurut keterangan polisi tewas karena kecelakaan tunggal, miskomunikasi antara pihak yang melakukan otopsi, menjadi salah satu penyulut juga.

Bertahun-tahun warga ambon membangun kepercayaan antar umat beragama, namun kejadian satu hari, membangkitkan rasa was-was sesama warga. Toleransi kembali dibangaun. Supir saya, nasrani, masih takut melintasi daerah muslim, kontributor metro tv di kota ambon yang bekerja sama dengan saya untuk mengejar berita, enggan meliput daerah nasrani.

Beberapa hari lalu menteri datang, menkopolhukam, kapolri, dan kasad, pengaruhnya? Mereka bertemu dengan tokoh agama & tokoh masyarakat setempat, acara basa-basi, paginya toh mereka tidak jadi mengunjungi tkp, atau sekedar berkunjung ke tempat pengungsian.

Kemarin saya coba rumah kopi sibu-sibu, dinding penuh dengan seniman asal ambon ada pula yang berdarah ambon yang kini berkewarganegaraan belanda. Kopi rarobang, dicampur dengan cemilan sagu, dan kacang kenari, nikmatnya… Di iringi lagu- lagu tempo malas, musik swing, membuat saya berpikir, inilah ambon. Wajar jika ambon punya julukan manise. Tempat yang harus dikunjungi untuk berwisata, bukan untuk provokator pendosa.

Pantai natsepa, pintu kota, saya takjub, kenapa tempat seindah ini harus jadi kawasan eksentrik untuk dipanas-panasi.

Orang ambon ini ramah, hanya itu saja kesan saya hampir seminggu di ambon ini.

Advertisements

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s