Surga Zaman Jura (Part 2)

Setelah trekking dari pulau rinca, saya diajak ke beberapa pulau terdekat, Pertama ke pulau kelor, saya tidak berhenti berkata wow! kontur kepulauan berbukit-bukit, dengan hamparan karpet hijau yang hampir mengering…teasing (kaki saya sampai gemetar waktu di pesawat-sebelum mendarat di bandara komodo-labuan bajo) amazing…

Langsung lepas baju, siap-siap snorkel, Air laut masih se dengkul, tapi, trumbu karang sudah berjejer, semua warna-warni, airnya jernih, apalagi saya snorkel jam 12 siang! sinar matahari langsung ke dalam air, bikin warna semua mahluk laut ini hidup! ikan-ikan kecil sliweran, warnanya neon, clown fish yang saya kenal, ikan-ikan seukuran jempol ada di laut dangkal ini…ada timun laut warna biru neon, juga ada bulu babi, komplit! bonusnya, pasirnya pinkish! saya sempat bawa segenggam pasir pulau kelor, katanya sih, kalo kita bawa pasirnya, kita bakal balik lagi kesana…

Pulau kelor masih sepi, tidak berpenghuni, tapi sayangnya (namanya manusia) meninggalkan sampah (walaupun tidak banyak), yg jadi PR, saya bersama yang lain memungut sampah setelah snorkel (sampah orang lain lebih tepatnya).

Mache (wartawan koran lokal) waktu sd, sering cabut sekolah, naik sampan bersama teman-temannya ke pulau kelor. DAMN! cabut sekolah? kalo di kota sih, yang cabut palingan ke mall atau tempat game online.

snorkel!

“Ada ikan yang lebih besar lagi, tapi bukan di pulau kelor, di pulau bidadari!” kata papa jo, ok then we moved to bidadari island…cuma sekitar 30 menit menuju pulau bidadari dengan speed boat.

Pulau bidadari setengahnya sudah dibeli bule (too bad) dan ramai sekali, ada 4 speedboat yang datang ke pulau bidadari, saat saya sampai 1 jam lebih awal dari mereka…btw si bule itu punya filter air laut jadi air tawar yang harganya puluhan miliar, pipanya langsung ke pantai, dan bikin jelek pemandangan.

Nah, bagusnya, kontur laut sekitar pulau bidadari bergradasi, artinya semakin jauh semakin dalam, dan betul saja, pengalaman yang sama ditemukan di pulau kelor, laut dangkal dengan ikan-ikan kecil. tapi di kedalaman 2 meter, ikan-ikan besar mulai nampak, hiu bodoh (orang labuan bajo memanggilnya begitu) nampak, tidak berbahaya karena ‘friendly’ literally, banyak makanan disana (ikan-ikan yang lebih kecil) bahkan kita bisa menyentuh itu hiu, saya jadi ingat tayangan expedition-metro tv, ada predator berarti laut sehat, yang menurut saya, rantai makanan masih dalam piramidanya sendiri. formasi ikan berkelompok juga mulai nampak, saya coba iseng ‘berantakin’ formasi, bermain-main dengan ikan itu menyenangkan.

here some tips:
Di pulau kelor, lebih enak sambil kemping, dengan catatan, bawa kembali sampah anda! oh iya, jangan lupa bawa camera underwater (sayangnya saya ga punya!) dan bawa sunblock, serta bioplacenton kalau tidak mau menderita kulit terbakar dahsyat! (seperti yang saya alami, snorkel tanpa persiapan)

Perjalanan seharian itu, akhirnya berakhir sebelum matahari terbenam, karena arus semakin kuat, gelombang juga semakin tinggi, akhirnya saya dan rombongan kembali ke Labuan Bajo. best track ever: Speck of gold – Afterlife, saya denger lagu ini malam-malam sebelum tidur sambil membayangkan pengalaman snorkel siangnya, penginapan sejuk tanpa AC, dan hujan. Sisanya merintih kesakitan, karena kulit terbakar hebat, tapi tidak mengapa, it’s worthed. perlu pengorbanan untuk mencicipi surga.

Advertisements

Leave a comment

Filed under jalankaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s