Monthly Archives: April 2011

Tambang Salah Urus

Di Kabupaten Manggarai Timur, Desa serise, Satu desa yang dulunya merupakan desa nelayan, belakangan menjadi desa penuh teror akibat orang-orang serakah. Tambang Mangan merusak laut, limbahnya langsung lari ke laut, membuat air di pesisir berwarna kelam. Nelayan pun harus melaut lebih jauh lagi untuk mendapatkan ikan, berisiko tinggi? pasti. Sebagian besar dari penduduk di desa serise sekarang alih profesi menjadi buruh tambang. tidak jauh dari desa, tepatnya di atas bukit, terdapat cekungan hasil pengerukan mangan. Di sanalah mereka menjadi buruh, sudah tidak menjadi tuan di tanahnya sendiri. Tiba-tiba saja, tahun 90’an lalu, mendadak truk-truk besar melewati desa mereka, dalam beberapa bulan kedepan, aktifitas tambang pun mulai terdengar.

Sudah banyak korban akibat debu mangan, tambang salah urus tanpa pengawasan dari pemerintah, membuat satu desa berpenyakit, bahkan anak-anak. Gerakan anti tambang, yang didukung uskup manggarai raya juga sudah mengupayakan agar aktifitas tambang di hentikan.

inilah gambaran Indonesia, memangnya mereka boneka? mereka juga manusia yang punya nyawa, penambang asal-asalan yang tidak mempedulikan warga desa serise harusnya minggat dari dulu, sekarang, mata airpun sudah tercemar debu mangan, bahkan kabar terakhir, seorang istri meninggal karena paru-parunya menghitam…

Advertisements

Leave a comment

Filed under jalankaki, renungan relung

Desa Tanjung: Abandoned Paradise

Desa Tanjung, terletak di perbatasan kabupaten Muna dan Buton, Kendari, Sulawesi -Tenggara, Dari Kendar bisa naik kapal, ke Raha, dari Raha (Jalannya Disco) sebenarnya dekat, namun karena tidak ada infrastruktur menuju desa tanjung, jadi dari raha, langsung ke lombe, sekitar 3 jam, dari Lombe bisa menggunakan katingting ke desa tanjung.

alternatifnya, kalau tidak mau lewat jalan darat, dari kendari bisa ke bau-bau dulu, lalu menyebrang dengan kapal, ke lombe, nah lanjut naik katingting ke desa tanjung… Sekitar 5 jam dari kendari ke bau-bau via segori express, saya main sudoku sampai mau pingsan di kapal, saking jenuhnya, bolak-balik keluar ruangan, cuma buat ngerokok…(oiya, jangan pernah duduk di kursi vip, karena di segori, vip nya panas! tvnya pun biru, jadi no need lah, yg penting adem di kelas ekonomi)

so here we go…

mukanya udah ga enak…


pemandangan sepanjang perjalanan dengan katingting

Desa tanjung sendiri miskin infrastruktur, penduduknya hanya 100an kepala keluarga, desa ini tergolong miskin karena terisolasi. berada di ujung tebing, sangat sulit mengakses desa tanjung, kalau mau pergi kesana juga tergantung ombak…berita terakhir, hampir semua wwarga desa tanjung mengungsi ke lombe, alsannya; tidak ada infrastruktur, dan pelayanan pendidikan & kesehatan di sana, pathetic.

href=”https://sarapandingin.files.wordpress.com/2011/04/img00510-20110226-1603.jpg”>
anak pengungsi di lombe

Di tengah-tengah desa tanjung, ada semacam cekungan, dua pohon beringin besar (sepertinya sudah tua) mengakar di karang-karang, dan air dibawah tebing jernih sekali, biru cenderung tosca…well this is paradise!

Jika cuaca bagus, kita bisa lompat dari sini, airnya tenang

selain itu, menuju desa tanjung dengan katingting (sejenis sampan) saya dimanja oleh pemandangan tebing-tebing melengkung sepanjang pulau, warnanya putih, kadang ada semacam gua di tebing itu, i’s amazing…

Best track: The time – BEP (guilty pleasure sih) tapi catutan kata ‘I have the time of my life, and I never had like this before…and I swear this is true..’ sambil naik katingting.

some tips: Bawalah kamera yg tahan air, dan jangan lupa bawa sunblock, wet suite, serta ktp (karena di desa tanjung sedang berkonflik, dan banyak polisi disana).

<a

Leave a comment

Filed under jalankaki

Surga Zaman Jura (Part 2)

Setelah trekking dari pulau rinca, saya diajak ke beberapa pulau terdekat, Pertama ke pulau kelor, saya tidak berhenti berkata wow! kontur kepulauan berbukit-bukit, dengan hamparan karpet hijau yang hampir mengering…teasing (kaki saya sampai gemetar waktu di pesawat-sebelum mendarat di bandara komodo-labuan bajo) amazing…

Langsung lepas baju, siap-siap snorkel, Air laut masih se dengkul, tapi, trumbu karang sudah berjejer, semua warna-warni, airnya jernih, apalagi saya snorkel jam 12 siang! sinar matahari langsung ke dalam air, bikin warna semua mahluk laut ini hidup! ikan-ikan kecil sliweran, warnanya neon, clown fish yang saya kenal, ikan-ikan seukuran jempol ada di laut dangkal ini…ada timun laut warna biru neon, juga ada bulu babi, komplit! bonusnya, pasirnya pinkish! saya sempat bawa segenggam pasir pulau kelor, katanya sih, kalo kita bawa pasirnya, kita bakal balik lagi kesana…

Pulau kelor masih sepi, tidak berpenghuni, tapi sayangnya (namanya manusia) meninggalkan sampah (walaupun tidak banyak), yg jadi PR, saya bersama yang lain memungut sampah setelah snorkel (sampah orang lain lebih tepatnya).

Mache (wartawan koran lokal) waktu sd, sering cabut sekolah, naik sampan bersama teman-temannya ke pulau kelor. DAMN! cabut sekolah? kalo di kota sih, yang cabut palingan ke mall atau tempat game online.

snorkel!

“Ada ikan yang lebih besar lagi, tapi bukan di pulau kelor, di pulau bidadari!” kata papa jo, ok then we moved to bidadari island…cuma sekitar 30 menit menuju pulau bidadari dengan speed boat.

Pulau bidadari setengahnya sudah dibeli bule (too bad) dan ramai sekali, ada 4 speedboat yang datang ke pulau bidadari, saat saya sampai 1 jam lebih awal dari mereka…btw si bule itu punya filter air laut jadi air tawar yang harganya puluhan miliar, pipanya langsung ke pantai, dan bikin jelek pemandangan.

Nah, bagusnya, kontur laut sekitar pulau bidadari bergradasi, artinya semakin jauh semakin dalam, dan betul saja, pengalaman yang sama ditemukan di pulau kelor, laut dangkal dengan ikan-ikan kecil. tapi di kedalaman 2 meter, ikan-ikan besar mulai nampak, hiu bodoh (orang labuan bajo memanggilnya begitu) nampak, tidak berbahaya karena ‘friendly’ literally, banyak makanan disana (ikan-ikan yang lebih kecil) bahkan kita bisa menyentuh itu hiu, saya jadi ingat tayangan expedition-metro tv, ada predator berarti laut sehat, yang menurut saya, rantai makanan masih dalam piramidanya sendiri. formasi ikan berkelompok juga mulai nampak, saya coba iseng ‘berantakin’ formasi, bermain-main dengan ikan itu menyenangkan.

here some tips:
Di pulau kelor, lebih enak sambil kemping, dengan catatan, bawa kembali sampah anda! oh iya, jangan lupa bawa camera underwater (sayangnya saya ga punya!) dan bawa sunblock, serta bioplacenton kalau tidak mau menderita kulit terbakar dahsyat! (seperti yang saya alami, snorkel tanpa persiapan)

Perjalanan seharian itu, akhirnya berakhir sebelum matahari terbenam, karena arus semakin kuat, gelombang juga semakin tinggi, akhirnya saya dan rombongan kembali ke Labuan Bajo. best track ever: Speck of gold – Afterlife, saya denger lagu ini malam-malam sebelum tidur sambil membayangkan pengalaman snorkel siangnya, penginapan sejuk tanpa AC, dan hujan. Sisanya merintih kesakitan, karena kulit terbakar hebat, tapi tidak mengapa, it’s worthed. perlu pengorbanan untuk mencicipi surga.

Leave a comment

Filed under jalankaki

Surga Zaman Jura

Saya penggemar film sci-fi, Jurassic park trilogy, yeah…skip dulu dari film thingy, kategori baru dalam blog ini ‘jalan kaki’ bertujuan untuk menceritakan pengalaman perjalanan saya, well, seingat saya mungkin…

speaking of Jurassic, saya pergi ke Labuan bajo, masalahnya sih sebenarnya tentang, penambangan yang salah urus. kebanyakan disana tambang mangan (bahan pembuat batu baterai) limbahnya? tentu saja kebanyakan langsung dibuang ke laut, belum lagi masalah sampah plastik yang dibawa turis maupun penduduk lokal ke mana lagi kalau bukan ke laut…padahal, labuan bajo merupakan daerah penyangga ekosistem Taman Nasional Komodo (TNK). Ada gerakan anti tambang disana, berikut dengan plasticman (gerakan cinta lingkungan), keduanya bermaksud baik, sebutlah Pater Marsel Agot, Mache (wartawan koran lokal), sampai Papa Jo (Pemilik penginapan) they do concern about the future of NTT, khususnya di labuan bajo.

Saya penggemar film sci-fi, Jurassic park trilogy, yeah…skip dulu dari film thingy, kategori baru dalam blog ini ‘jalan kaki’ bertujuan untuk menceritakan pengalaman perjalanan saya, well, seingat saya mungkin…

speaking of Jurassic, saya pergi ke Labuan bajo, masalahnya sih sebenarnya tentang, penambangan yang salah urus. kebanyakan disana tambang mangan (bahan pembuat batu baterai) limbahnya? tentu saja kebanyakan langsung dibuang ke laut, belum lagi masalah sampah plastik yang dibawa turis maupun penduduk lokal ke mana lagi kalau bukan ke laut…padahal, labuan bajo merupakan daerah penyangga ekosistem Taman Nasional Komodo (TNK). Ada gerakan anti tambang disana, berikut dengan plasticman (gerakan cinta lingkungan), keduanya bermaksud baik, sebutlah Pater Marsel Agot, Mache (wartawan koran lokal), sampai Papa Jo (Pemilik penginapan) they do concern about the future of NTT, khususnya di labuan bajo.

Sempat membahas TNK & Jurassic, Beyond my imagination, trekking at Rinca island was like travel to unknown time dimension, it feels like back to jurrasic age, or it might be on the movie scene. yes, Semua vegetasi di TNK masih asli, tidak ada yang ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. ‘Mahluk’ lokalpun juga masih asli; KOMODO. Saya ke Pulau rinca bersama keluarga papa jo, melewati jalan setapak selama 1 jam, masuk ke dalam hutan, melihat sarang komodo, harus waspada dengan lingkungan sekitar (kalau-kalau komodo menyerang tiba-tiba). rasanya seperti ada t-rex mengikuti saya. Vegetasi yang jarang ada di pulau jawa, dan best scene; Hijau yang berbeda yang ditawarkan surga zaman jura.

Lelah? pasti, namanya juga trekking, was-was, tentu saja, walaupun sudah ada 2 ranger yang mengantarkan saya trekking.

The anti-climax

Nah, perjalanan dari labuan bajo menuju pulau rinca sendiri makan waktu kurang lebih 2 jam, tapi bisa lebih singkat dengan menggunakan speed boat. sampai di dermaga loh buaya, air di dermaga saja sudah jernih, mahluk laut sudah pasrah mau diapakan saja di dalam sana, buktinya mereka sama sekali tidak bergeser dari posisi nyamannya.

melewati hutan bakau, akhirnya saya sampai di pos masuk, tentunya sebelum trekking, pengunjung diberikan ‘ceramah’ to-do and not-to-do. here some tips: pakai sandal gunung lebih enak (jangan pernah pakai sandal jepit), bawa air minum, ipodmu tidak berguna nak!, jangan lupa bawa camera…

here’s the photos

Next spot…Another heaven’s treat… snorkel, beach, pinkish sands, and sun!

Leave a comment

Filed under jalankaki