Monthly Archives: January 2010

Rumah Dara: Cerita Klasik Efek Ciamik

Bayangkan! MO brother membuat film yang serius!, good bye film-film genre sejenis yang bikin dongkol habis nonton film itu. Back to Rumah Dara, the result is:
1. Danish, aktingnya bagus banget!
2. Emosi kita dipermainkan saat Astrid yang sedang hamil ‘diburu’, biasanya kan yang hamil selamat tuh…hehehe
3.Tegangnya terasa setelah makan malam!
4. The cast ok
5. Aming sedikit membuat suasana hangat kembali
6.overall Rumah dara film terbaik tahun ini (see tahun lalu pintu terlarang, kan, hehehe)

tapi ini versi saya lho…I’m not expert in cinema

Leave a comment

Filed under Killing time, Uncategorized

Kate Nash, Imogen Heap, & Feist for this rainy day

Karakter vokal mereka sangat apik. Suara falset nada-nada yang menenangkan, lirik-lirik yang membumi, cerita sehari-hari seorang perempuan yang dimabuk cinta tanpa ada yang harus didramakan, tiga album mereka patut didengar kala hujan, sambil ditemani secangkir kopi hangat, yeah this january they’re my favorite. patut didengar ‘foundation – kate nash, ‘1234 – Feist, ‘Flick – Frou-frou, atau ‘first train home – imogen heap, atau must be dreaming – imogen heap, so nikmatilah kawan…

Leave a comment

Filed under good music

My 1st Published Feature “Kucing-kucingan di LP Wanita”

Behind the scene dulu ya ces…sebenarnya, sebelum ke lp wanita, saya ke lp anak dulu, coba hidup beberapa jam disana, ruang sempit, di ujungnya cuma ada jamban, yang tidak layak, ruangannya 2 x 2 meter, 50 x 50 cm digunakan untuk jamban, yg masuk sel itu 10 orang, bayangkan tidur bergiliran!, tapi untungnya banyak kegiatan-kegiatan rutin diluar sel…makanannya? alamak, sehat! kuah di campur nasi, dan kerupuk…tapi feature gua tentang kehidupan penjara kurang “scandalous” nah tentang buntutin sipir, gua ditakdirkan untuk bisa menyamar 😛 intinya sih dibantu sama hoki juga, masuk pake id card press, kluar belaga keluarganya sipir, sok-sok ngerokok di pinggir jalan, ngajakin ibu-ibu sipir ngobrol, sok-sokan juga satu angkot (untung aja ngerti trayek angkot itu) namanya ibu-ibu, pancing dikit langsunglah curhat…gua ngaku wartawan, awalnya dia takut, tapi gua meyakinkan dengan wajah bersahabat! gua diajak ke rumahnya, liat kegiatan di rumahnya, liat keluarganya, cerita-cerita…afterall, deadline menanti! gua cari wifi terbaik di kota antah berantah, langsung kirim tu naskah…hasilnya? dimuat ces, ini feature pertama, di desk polhukam, centerspread pulak (norak yak)

Kucing-kucingan di LP Wanita- (My 1st published feature, 20 Januari 2009, Media Indonesia)

SEORANG ibu setengah baya, sebut saja Susi (bukan nama sebenarnya), bergegas keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang, melalui pintu gerbang. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 16.25 WIB. Sampai di pinggir jalan, langkahnya terhenti sambil mencegat angkutan kota (angkot) warna hijau yang melintas.

Selama menumpang angkot, beberapa kali ia menengok jam tangannya, berharap waktu berputar lambat karena rumahnya cukup jauh dari LP tempat ia bekerja. “Rumah saya jauh Mas, mudah-mudahan saja jalanan tidak macet, sehingga bisa beres-beres rumah sebelum suami pulang,” keluh perempuan yang mengaku sudah belasan tahun bekerja di LP itu.

Perempuan yang masih mengenakan seragam LP itu tidak mau menyebut jenis pekerjaannya karena takut identitasnya diketahui atasannya. Tapi yang pasti, tugasnya dan tanggung jawabnya tidak ringan, walaupun gaji yang diterimanya tiap bulan kurang dari Rp2 juta. Penghasilan pas-pasan itu harus diatur sedemikian rupa untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Pengeluaran keluarga setiap hari sekitar Rp100 ribu, untuk ongkos dan uang makan bersama suami dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMU.

Suaminya bekerja sebagai pegawai negeri, tetapi gaji suaminya juga tidak berbeda jauh dengan gajinya. Belum lagi harus membayar cicilan bank yang mereka pinjam untuk kredit rumah selama 15 tahun.

Rumah bertipe 21 yang dibeli sejak tiga tahun lalu itu, kini rimbun penuh dengan anggrek pemberian teman-temannya. Meski seharian bekerja di LP, Susi sepertinya tidak pernah lelah. Sesampai di rumah, ia langsung mengganti seragam dengan daster batik cokelat yang sudah mulai lusuh, lalu menyiapkan sapu dan lap basah untuk membereskan rumah.

Setelah itu ia menyiapkan makan malam dibantu kedua anaknya. Aroma tempe goreng dan sayur daun singkong sisa kemarin yang dihangatkan lagi, mengundang rasa lapar penghuni rumah sempit itu.

Kembali ke cerita di dalam LP, Susi mengaku kadang memperoleh uang tip dari para tahanan, tidak lebih dari Rp30 ribu per hari. “Itu uang tanda terima kasih kalau mereka meminta bantuan tertentu, dan kadang mendapat bingkisan saat hari raya seperti minyak, gula, dan biskuit kaleng,” tuturnya.

Tidak ada jatah dari atasan, ataupun bagi-bagi rezeki jika ada uang titipan dalam jumlah besar yang langsung diberikan ke atasan. Sebagai pegawai kecil, ia berusaha agar setiap pemberian para tahanan tidak diketahui atasan. “Ya mau enggak mau harus kucing-kucingan dengan atasan. Saya takut kehilangan pekerjaan hanya karena pemberian yang tidak seberapa,” akunya.

Susi terus terang mengaku dirinya bukanlah pegawai LP yang bersih, tetapi ia tidak mau munafik dan juga tidak rakus. “Bagi saya yang penting anak-anak bisa dibiayai. Kalau sudah mentok, ya terpaksa utang sana-sini,” tukasnya.

Sebagai perempuan, Susi mengaku gemar bersolek, tetapi karena keadaan ekonomi yang serbapas-pasan, ia berusaha menahan diri. Kalaupun membeli, misalnya pewarna bibir dan bedak, harganya tidak lebih dari Rp25 ribu.

Perawatan wajah serbawah dengan biaya mahal seperti yang dilakukan Artalyta Suryani alias Ayin di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, jelas bukan bagian dari kehidupan Susi. Tapi sebagai petugas LP, Susi mengaku malu melihat ada istana di penjara.

“Petugas penjara itu bukan malaikat, tetapi kalau sampai seperti itu, sih sudah keterlaluan. Itu pasti bukan urusan orang kecil di rutan lagi, Mas. Itu sudah mainan para petinggi di atas,” katanya sembari sekali lagi meminta agar identitasnya disembunyikan.

Leave a comment

Filed under renungan relung

Tren Gaya Hidup: Korupsi

Jika kelit orang tentang dampak sistemik dari skandal century sangat meresahkan, ada lagi yang benar-benar buat kita ketar ketir. Ribuan kasus korupsi yang menumpuk di KPK, mulai gratifikasi, sampai makelar hukum yang juga sedang menganggu KPk, dilakukan oleh orang-orang berduit.
You were rich, you were enough, but why you did it? seperti itulah pertanyaan kita, lalu sekumpulan orang menjawab sekaligus bertanya, because god put stupid people in our government, but why?

Ada anekdot, budaya konsumerisme membantu mereka untuk ‘take some for dip’ ‘dig it more off to the core, selama tidak ketahuan’. Jadi apakah ini gaya hidup? mampu membeli kijang, buat apa ngiler alphard, toh yang penting bisa bergelinding di aspal, atau maunya punya rumah di pondok indah, tetapi mampunya punya rumah di pondok cabe.

well, korupsi mukin tren jaman yang paling panjang, tren gaya hidup yang harus di update setiap saat, budaya latah atas keserakahan yang nisbi. Manusia.

(Well im not god, sewaktu-waktu kesempatan korupsi itu pasti ada, saya tidak stupid, jadi saya tidak mau masuk dalam lingkaran pemerintahan atau apa namanya…cuma itu saja yang saya bisa lakukan untuk menghindari diri dari mengorupsi korupsi)

Leave a comment

Filed under renungan relung