Monthly Archives: December 2009

Eliot Ness, kami butuh orang seperti anda

Tak terhitung berapa banyak media yang membahasnya, mulai dari keberhasilanya membekuk Alcapone si mafia pengggelap pajak dan tersangka dengan 5000 kasus kekerasan, sampai dengan kematiannya yang tragis. Raganya memang sudah tidak ada, terurai menjadi tak terbentuk apapun, tetapi sayangnya jiwanya, yang mempunyai sikap untuk ‘berani mati’ atas apa saja yang benar, juga sudah lenyap. Tidak ada lagi yang benar di dunia ini, media raksasa punya si ‘yahudi’ itu kah, agen-agen resmi US yang selalu mengaung-gaungkan kata-kata ‘top secret’ kah, orang bersorban di tengah gurun pasir kah? atau biksu khusyu yang berdoa di kuilnya?

entah mengapa, begitu banyaknya kepentingan pribadi di negeri ini, saya dan hampir semuanya. seseorang disogok dua mercedez benz untuk melegalkan ‘illegal logging’ (padahal nilai tukarnya justru jauh lebih bernilai ribuan ton kayu, atau ribuan hektar hutan yang dibabat, shame on you pejabat), lalu beberapa orang pintar tidak menemukan apa-apa di negeri ini, mereka pergi jauh ke negeri lain untuk berkarya (bukan salah mereka karena tidak difasilitasi di sini), betapa malunya kita dengan dibayar satu rupiah kita bisa berikan apa saja kepada orang-orang yang ingin mengambil banyak keuntungan dari negeri ini.

Teman, kita renungkanlah, apa yang terbaik untuk bangsa ini, bagaimana caranya kita mengahdapi ‘pertukaran’ menggoda itu, bagaimana caranya agar kita tidak menjual bangsa ini

“saya lebih baik mati kekeringan, dari pada harus menjual bangsa ini” saya kutip dari seseorang yang benar-benar mengubah pola pikir oportunis ini.

Leave a comment

Filed under renungan relung

Semangat Indonesia

Olahraga yang minim prestasi…dua dekade ini kita semua merasakan, olahraga beregu terutama. Menpora akan fokus terhadap olahraga individu dan beberapa cabang yang terukur. demi mendulang emas skala prioritas pun akan segera dilakukan, sayangnya cabang-cabang yang tidak beruntung bernasib layaknya kemunduran prestasi mereka.

Kita kemudian lalu berbicara tentang minimnya sarana olahraga yang dikhususkan untuk publik, bahkan yang gratis sekali pun, main futsal harus bayar kan? atau peran media yang lebih banyak menyorot turnamen asing ketimbang turnamen dalam negeri, kita butuh bangga untuk menaikan derajat kita dari kekerdilan bangsa lain terhadap indonesia. lewat kompetisi yang paling fair; Olahraga. namun bagaimana caranya bila olahraga belum memasyarakat dan menjadi atlet adalah pilihan hidup terakhir menimbang kesejahteraan atlet yang tidak berimbang dengan prestasinya.

Kita butuh bebenah diri dari dalam diri kita sendiri. untuk lebih bertanggung jawab demi menumbuhkan semangat nasionalis. biarkan sistem generasi sampah yang menduduki pemerintahan atau birokrasi sampah yang ada membuat kacaubalau semua hasil pemberdayaan, hanya diri kita sendiri yang bisa bercermin pelan-pelan merubah sistem agar semua hasil yang nantinya akan kita dapuk tumbuh menjadi bibit positif yang membanggakan.

SEMOGA

Leave a comment

Filed under renungan relung