Monthly Archives: October 2009

Gempa.

Musibah datang bertubi-tubi di Indonesia, terakhir yang kita ketahui adalah; gempa di Sumatera Barat. saya sendiri mengakui bahwa kita sedang diingatkan tuhan, saya di sini yang tidak terkena musibah memang mengakuinya sebagi pesan tuhan terhadap umatnya, bahwa kita harus memperbaiki segala kesalahan yang telah kita buat. Tetapi di Gintung, Tasik, dan Padang (lalu apabila terjadi pada diri sendiri) jujur saya katakan bahwa saya akan sangat sedih sekali jika segala musibah yang menimpa adalah sebagai pengingat, karena seandainya saya adalah korbannya, saya berpikir bahwa sebegitu murkanya tuhan pada saya dan banyak orang. Marilah kita mulai membenahi puing-puing, mencari saudara kita, mencari apa yang sudah lama kita lupakan, kearifan, kesederhanaan, kesabaran, dan rasa ikhlas. Saya tiak bisa berhenti berpikir bahwa saudara sebangsa saya sedang menderita, merintih di seberang pulau. mulailah kita saling membantu, mencari apa yang sebenarnya mereka butuhkan, marilah kita lebih peduli, perlakukanlah mereka seperti ibu kita merawat kita.

berduka, pasti. tetapi tidak terlarut. daripada berduka, lebih baik saya berharap sekaligus berdoa, agar saudara-saudara kita diberikan kekuatan untuk saling bahu membahu bangkit kembali.

Leave a comment

Filed under renungan relung

Iman Dengan Otak

Seriously, they must be stick together.

Iman, dikatakan demikian menyangkut seberapa apiknya manusia menjaga hubungan vertikalnya dengan sang pencipta. Hadirnya sebuah dialog batin mengenai mana yang benar dan mana yang salah didalangi oleh iman manusia itu sendiri. Saya harap iman dalam diri manusia selalu membawa kebenaran, tetapi apa jadinya apabila iman seseorang tidak diimbangi dengan otak?

Iman bisa menjadi sebuah bumerang, keimanan seseorang bisa berubah menjadi ekstrim, apabila tidak diimbagi dengan ilmu. sebut saja, bahwa semakin tinggi iman seseorang, hendaklah ia semakin memperbanyak makanan otaknya. Seorang pengkhayal ulung butuh banyak usaha untuk mewujudkan khayalannya, seorang yang beriman butuh ilmu logis untuk mengasah kemampuan batinnya untuk menunjukkan betapa cintanya ia terhadap tuhannya.

Ilmu yang tinggi, otak yang cemerlang dengan pikiran yang logis, butuh iman yang kuat agar tidak terpental oleh daya otaknya sendiri, bayangkan jika iman dan otak terpisah, jalan sendiri-sendiri, well we could see on newspaper, or media sack about that. banyak contohnya apabila kedua hal tadi tidak berjalan beriringan, semua akan bermuara pada gangguan nalar seseorang, bahkan jiwanya, dan tak kalah pentingnya; akan merugikan orang-orang di sekitarnya.

Leave a comment

Filed under renungan relung