So old past 3 month, but also I loved this genre

Tentang Pintu Terlarang (Ulasan Film, dan tentang dialog film)
Oleh Silvano Hajid Maulana

Sekar Ayu Utami, tulisan imajinya berkembang menjadi sebuah film. Pintu Terlarang salah satunya. Layaknya film psikologi yang menyajikan teka-teki, dan mencampur adukan emosi, ketika jalan cerita berubah drastis menjadi sebuah pencarian. Gejala-gejala mental disorder begitu kentalnya mewarnai jalan cerita. Banyak orang yang menyangka bahwa pintu terlarang merupakan film esek-esek, dilihat dari judul dan poster sepasang kekasih (Fachri Albar & Marsya Timothy), Poster sebagai alat Bantu promosi bisa memancing banyak kalangan untuk menonton, begitupun film ini, tidak sedikit orang yang menonton hanya karena melihat posternya saja. Peran media online mungkin juga berpengaruh, hanya saja penonbton lebih suka dipengaruhi oleh iklan media luar ruang dan pesan-pesan melalui televisi (media online akan sangat berguna ketika alat-alat publikasi kuno sudah meredup, kira-kira beberapa tahun yang akan dating, ketika kita semua sudah ‘melek’ internet, harga yang terjangkau dan koneksi yang stabil).

Film ini merupakan budaya baru dalam film Indonesia. Menawarkan setting tempat yang begitu apiknya, walaupun tidak menggugah realitas bahwa Jakarta tidak sebegitu indahnya. Pengambilan gambar yang teramat rapih, dan beberapa sudut mempunyai sisi sinematografinya sendiri. Tetapi karena terlalu indahnya, kita jadi tidak menyadari bahwa setting tempat seperti berada dalam dunia antah berantah, bukan eropa tetapi di Indonesia (walaupun memang dunia antah berantah berhubungan erat dengan imajinasi si tokoh utama).

Teka-teki pintu terlarang, atas rasa curiga Gambir terhadap istrinya, dan benang merah antara pintu terlarang dan video sadis yang dikhususkan untuk orang pesakitan klub Herosase. Gambir sebagai pematung menanamkan janin kedalam setiap patungnya, patung ibu hamil dengan beberapa pose, sampai tulisan “tolong saya” yang kerap muncul tak terduga, menjadi suatu benang merah dalam pesan film pintu terlarang.

Bahwa manusia berada di dunianya bukanlah kehendak siapa-siapa, melainkan tuhan. Bukan pula keinginan orang tua, seorang anak terlahir untuk menjadi sesuatu, dan orang tua hadir sebagai nurture. Tindakan-tindakan brutal seperti gabungan film ‘dr. Lecter’ dan film saw saat makan malam natal merupakan tindakan kreatif, tetapi racun pelumpuh syaraf membuat acting beberapa pemain menjadi lumpuh. Hingga gambaran adegan brutal seorang anak membunuh orang tuanya sendiri terlihat begitu nyatanya, semua sudut gambar terasa begitu mencekam, sehingga semua orang merasakan dirinya seperti berada di TKP. Pesan film kemudian sampai pada sebuah dialog batin ‘orang tua yang seharusnya berkaca’

Genre film seperti pintu terlarang memang jarang, dan punya segmentasi pasar tertentu. Tidak ada salahnya untuk menentukan arah film Indonesia dari sekarang. Tidak apa-apa kita digempur film-film horror, atau cinta bahkan film semacam American pie, asalkan film dengan genre seperti pintu terlarang masih bisa kita tonton walaupun kemunculannya hanya setahun sekali.

Advertisements

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “So old past 3 month, but also I loved this genre

  1. Aji

    bagus ya? sayangnya kmrn blm sempet nonton
    ada dvd nya gag Noy? minjem dong gue

  2. sarapandingin.wordpress.com – da best. Keep it going!
    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s