zig zag way as a New breed for a man.

gerrit_t_rietveld_zig_zag_3va

Goenawan Muhammad dalam bukunya yang berjudul ‘Tuhan dan hal-hal yang tak selesai’ menyebutkan bahwa hidup seperti jalan zig zag (terlepas dari konteks tuhan dalam tema bukunya). Kesimpulan saya tentang kata-kata tersebut adalah hidup memang punya sistemnya masing-masing yang berkerja secara acak, penuh dengan beat, dan tanpa disadari jalan zig zag itu adalah jalan setiap individu untuk mengemukakan hidupnya dengan banyaknya pertanyaan di dalam benak masing-masing. Dalam kamus bahasa inggris, breed diidentikan dengan kata-kata seperti beranak, berkembang biak, berternak, memelihara, mendidik , membesarkan, menyebabkan, menimbulkan, keturunan dan beberapa kata turunan yang berhubungan dengan perkembangbiakan. Jika saya buat bold dari kata-kata tersebut yang berhubungan dengan judul, maka saya akan merangkainya seperti; mendidik, membesarkan, keturunan. Tiga kata kunci tersebut akan terus melekat dalam tulisan ini sampai pada akhir paragraf. Karena saya belum puas dengan hasil yang didapat tentang breed yang sempat salah dengar menjadi breath, maka saya browsing dan langsung mencari merriam webster dictionary, ok saya temukan thesaurus dari breed lebih bermakna dari kamus bahasa inggris yang sebelumnya saya baca, breed di sana diartikan sebagai ‘beberapa orang yang tinggal bersama dikarenakan mempunyai beberapa kesamaan’ hmm…itu noun, ok akan saya cari breed dalam verb, ya breed yang dimaksud terdiri dari dua definisi, yaitu; tidak jauh dari makna berkembang biak dan identifikasinya ntuk binatang yang berkembang biak, tapi definisi yang kedua cukup melegakan, karena berhubungan dengan manusia dan kematangannya berpikir dari segi usia, dan menurut dictionary nya selain dari kata-kata yang berhubungan dengan reproduksi dan berkembang biak, adalah tentang sesuatu yang berhubungn dengan kehidupan baru yang berubah secara radikal. Mengapa saya terus mencari tahu?…karena saya tidak puas terhadap arti dari breed di dalam kamus bahasa indonesia yang jika kita identifikasikan melalui jenjang kesopanan bahasa sangat berhubungan dengan binatang yang berkembang biak, pada akhirnya saya sudah menemukan definisi sesungguhnya dari breed yang sebelumnya hanya saya tahu sebagai breed nya breed, seperti beberapa kata dalam bahasa indonesia yang saya masih belum tahu cara mengganti kata lainnya selain kata-kata yang dimaksud.

Kembali lagi pada kehidupan yang mempunyai jalan zig zag, kita bisa membuat visualisasi seperti gurat garis tangan kita sendiri. Di mana tidak akan hidup yang akan terus lurus-lurus saja, tidak ada manusia yang tidak berkembang kecuali otaknya sebesar butir jagung. Manusia selalu belajar (sudah saya ungkapkan dalam tulisan saya sebelumnya). Manusia belajar dari sudut-sudut yang terbentuk dari jalan yang zig-zang, dari situlah ia berkembang, menjadi dewasa. Selain karena kodrat alam, manusia juga harus bisa matang dalam hal pola pikir. Matang dalam membuat keputusan dan matang untuk bertahan hidup sendiri, matang untuk menjalani hidup mandiri, matang untuk bertanggung jawab. Jika kita kaitkan dengan budaya, laki-laki sangat identik dengan ‘tanggung jawab’, dalam segala hal. Laki-laki selalu diidentikan dengan seseorang yang berdiri tegak seperti pohon jati berumur ratusan tahun. Ya, saya setuju, laki-laki sudah seharusnya seperti itu, untuk membuat sebuah benih tumbuh menjadi kecambah, kemudian menjadi batang pohon muda, dan akhirnya tumbuh menjadi dewasa di butuhkan banyak, banyak, banyak perawatan secara alami ataupun rekayasa. Berujung pada hasil dari semua pola didik orang tua terhadap anak laki-lakinya, hasilnya hanya ada dua, yaitu; laki-laki yang goyah, dan laki-laki yang kuat, sama seperti pohon, ada yang reot dan yang kuat. Teserah akan hasil yang ada, tetapi poin penting bagi laki-laki adalah bagaimana ia bisa mempertanggung jawabkan kehidupanya.

Dalam tulisan saya sebelumnya, ada beberapa fase hidup bagi manusia khususnya laki-laki. Berhubungan dengan new breed of man, fase di mana laki-laki akan bertanggung jawab terhadap pasangannya, untuk apa? Untuk mencerna kehidupannya sendiri, kehidupan yang di tentukan dengan ketentuan alam dimana dalam umur tertentu laki-laki harus sudah menikah (menikah untuk seks, dari pada berzina excuse seperti itulah yang dipakai dalam beberapa masyarakat kita, atau bahkan orang tua zaman dulu menikah cepat dikarenakan faktor umur produktif, atau mungkin faktor umur birahi), dan menikah untuk mendapatkan keturunan, menikah untuk meneruskan jalannya yang zig zag, dan menikah untuk menjadi seseorang yang baru, seseorang yang dewasa dan telah memenuhi tahap-tahap hidupnya. Memang mudah dikata, tetapi sangat sulit untuk kita jalani. Bahkan yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya adalah now…then? Atau I still haven’t found what I’m looking for. Ya, laki-laki hidup di antara pencariannya, masih mengenai tanggung jawab yang dimeriahkan oleh orang tua-orang tua kita, bahwa beban laki-laki itu sangat besar, beban berupa tangung jawab. Ok saya tahu, tapi apa pentingnya tanggung jawab, statement yang sangat sakral bagi laki-laki berumur twenty something, saya masih belum menyadari. Saya mulai membayangkan lagi, tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan laki-laki dalam menjalani hidup barunya, hidup untuk menghasilkan keturunan sekaligus mempunyai keluarga baru, meneruskan garis keluarga, dan lepas dari si pendidiknya, yaitu; ayah dan ibu. Tanggung jawab atas nama ayah dan ibu, untuk selalu menjaga nama mereka, taggung jawab sebagai laki-laki…nah ini lebih kompleks dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Terngiang-ngiang dalam pikiran saya tentang membagun keluarga. Membangunnya seperti batang bambu, dengan batang yang semakin mengecil ke atas, semakin tahu intinya, dan semakin tahu bagaimana cara memaknai hidup. Menikah merupakan suatu ketakutan tersendiri bagi laki-laki, tak jauh-jauh…ketakutan terhadap tanggung jawab yang ada. Di samping hipotesa berdasarkan nalar kita, kita juga mempunyai imajinasi indah tentang sebuah keluarga. Keluarga muda, dengan gaya hidu muda, saya perah bilang bahwa saya ingin sekali sunbtahing bersama istri di kepulauan karibia, hiking bersama istri ke Mahameru, atau cukup sekedar bermalam minggu di rumah menonton dvd film kesayangan bersama istri duduk di sofa yang paling nyaman menikmati wine, atau mungkin banyak perbedaan (karena memang setiap manusia berbeda) yang di temui, pastinya nanti ada konflik-konflik hingga klimaks, semua adalah kemungkinan. Kemungkinan untuk meluap-luap, kemungkinan untuk membandingkan, kemungkinan untuk kembali menuju nihil, kemungkinan untuk jatuh terpuruk, kemungkinan untuk lebih terpuruk. Saya lalu bertanya pada diri saya sendiri ’ apa memang kehidupan berumah tangga sangat membingungkan?’ hingga banyak orang yang takut akan menikah (terlepas dari segala bayangan yang membuat saya terseyum simpul).

Seperti sebuah kompetisi dalam suatu permainan. Manusia khususnya laki-laki selalu ingin beranjak ke level-level teratas, dengan score yang lebih tinggi, atau bahkan bonus. Terlepas dari itu semua, laki-laki selalu ingin menjadi pemenang, pemenang dalam hidupnya, pemenang karena telah melawan egonya dan berkutat pada kata sakral bernama tanggung jawab. Menjadi pemenang karena membangun keluarga baru, terlebih lagi euphoia berlebihan karena test pack istri menandakan positif, dan akan lebih, lebih, lebih bahagia bila melihat anaknya berjalan pada jalan yang sudah dibayangkan sebelumnya. Sembari belajar menjadi laki-laki yang benar, menjadi laki-laki yang bisa dicontoh dan dihormati oleh keluarga barunya. Sekali lagi, terdengar mudah, tetapi sangatlah sulit untuk di jalani mengingat banyak sekali sudut-sudut di jalan yang ternyata vertikal dan sulit untuk didaki, sudut vertikal imajiner dalam jalan hidup manusia yang kadang membuat saya bergidik. Baiklah sekarang marilah kita memasukan paham positivisme ke dalam jiwa kelaki-lakian kita, mulailah membangun satu rumah, lalu isi dengan barang-barang yang berguna, buatlah pagar rumah, lalu tanami halaman rumah dengan sesuatu yang hijau, dan terakhir rawatlah rumah tersebut, mungkin di dindingnya di cat beberapa tahun sekali, atau mengganti posisi sofa di ruang kelarga. Rumah ibarat diri kita sendiri (maaf ini cuma pengandaian bukan kokology), rumah bagaikan seorang laki-laki yang baru saja menikah dan harus mengetahui sisi-sisi lain dari pasangan hidupnya, membuatnya nyaman, membuat otot-otot wajah bergerak-gerak, mempunyai keturunan, mengisi segala hal yang positif berikut mencermati risikonya, dan dialah pemenangnya.

Jalan manusia memang zig zag, jika tidak, berarti ada yang salah dengan otaknya. Tuhan punya sistem tersendiri, terpola dengan sempurna, dan tidak ada manusia yang tidak pernah tidak merasakan lelah akan jalannya masing-masing sehingga malas atau takut menghadapi jalan-jalan lainnya, bahkan kejutan-kejutan seperti jalan dengan slope membuat laki-laki terlontar kembali dan harus mengulang lagi. Saya percaya, bahwa pencarian laki-laki akan berhenti seketika ketika ia sudah menemukan keluarga yang hangat dan nyaman, dimana dia merasa sangat dihargai dan dihormati atas segala jeri payah yang ia lakukan untuk keluarganya. Saya? Saya belum menang, saya masih mencari apa yang saya benar-benar butuhkan, dan akan berhenti mencari semua yang berhubungan dengan ‘kebangaan laki-laki’ ketika kelak saya mempunyai keluarga yang bersahaja, ketika kelak saya sdah bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri, dan tahu arti dari kata sakral bagi laki-laki yaitu; tanggung jawab.

Advertisements

2 Comments

Filed under Sarapan dingin

2 responses to “zig zag way as a New breed for a man.

  1. Doktrin umum yang mengharuskan kita untuk berbuat demikian, mencari dan terus mencari. Kadang kita gak tahu apa yang harus dicari, saat orang bertanya apa yang kamu cari, tapi dijawab nggak tahu..

    Laki-laki dengan segala bentuk egosentrisnya, mencoba memunculkan karakter samson dalam pribadinya. Tapi, ada laki-laki yang menolak karakter samson, dia lebih memilih karakter Delila.. bisakah menolak hasrat tersebut?

    Satu bentuk pemikiran, ini gimana, kedepannya gimana, what if.. what if.. kalau udah tuir dan mokad.. harta benda ini akan dikemanain, siapa yang bakalan ngurusin gw waktu tuir, and so on..

    – huang –

    • sarapandingin

      Well, Boys will be boys, but actually timing to be men kinda hard to understand, tetapi yang kita cari itu justru ada di hari ini, sebuah tanggung jawab…atas apa yang telah kita lakukan setiap detiknya, bertanggung jawab atas segala konsekuensinya, dan bertanggung jawab untuk menerima segala benefit yang ada, no matter they are samson or delilah. setiap laki-laki lahir dengan harapan sebuah peran yang nature dan nurture, sebagai samson, sebagai orang yang bisa bertanggung jawab hari ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s