Menonton buku, Membaca film (laskar pelangi)

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Industri perfilman di Indonesia kini begitu dinamisnya, ada saja Film baru yang hadir tiap bulannya di bioskop. Beberapa genre menawarkan hiburan yang tawanya habis ketika usai menonton, dan beberapa genre lagi sebagai minoritas menyisakan renungan mendalam sehabis menonton. cerita dari sebuah film bisa berasal dari sebuah novel, kumpulan sajak, cerpen dan beberapa karya sastra lainnya, kabar baiknya adalah kita bisa membaca dan menonton buku sekaligus, contohnya; ‘Tentang Dia’ film garapan Rudi Soejarwo yang ceritanya diangkat dari salah satu cerita dari kumpulan cerpen karya Melly Goeslaw, atau ‘Cintapuccinno’ film yang juga garapan Rudi Soejarwo dan ceritanya terinspirasi dari novel chicklit, Cintapucinno, juga ada ‘ayat-ayat cinta’ film arahan sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel Ayat-Ayat Cinta dan booming pula, contoh yang lain adalah ‘laskar pelangi’, walaupun belum beredar di bioskop, tetapi nama Mira Lesmana, Riri Riza, dan penulis novel ‘Laskar Pelangi’ itu sendiri, Andrea Hirata, begitu menjanjikan.

Menonton Bukunya Andrea Hirata

Laskar pelangi, adalah salah satu novel yang begitu bersahaja (saya jujur dan tidak sedang berpromosi). “buku rekomendasi Kick Andy” itulah kira-kira judul dalam deret rak buku di sebuah toko buku besar, Laskar pelangi ada di situ, dan eksis sebagai produk eye level dengan tulisan glossy berlatar belakang bintang ‘best seller‘ dan baru-baru ini sosok andrea hirata mulai terlihat di sampul depan Laskar Pelangi cetakan terbaru. Saya bilang “wow” Laskar pelangi begitu suksesnya, lepas dari acara Kick Andy yang sempat menghadirkan Andrea Hirata, label best seller di cover novelnya, dan strategi pemasaran yang handal, Laskar Pelangi tetap menjadi salah satu buku terbaik. Bisa divilsualisasikan secara dramatis oleh orang-orang yang hebat di bidangnya merupakan satu penghargaan bagi Laskar Pelangi dan sekaligus juga sebagai tantangan mewujudkan imajinasi orang banyak yang penah membaca laskar pelangi.

Membaca filmnya Miles Production

ketika trailer film Laskar Pelangi mulai mempromosikan dirinya, soudtrack film itu mulai terdengar, ditambah bantuan dari beberapa mulut yang bilang bahwa Laskar Pelangi difilmkan, maka ekspektasi kita terhadap laskar pelangi yang akan kita baca dalam film, tidak dapat dibendung lagi. Sambil menunggu film itu diputar di bioskop, saya bilang “wow” lagi, Laskar Pelangi menguggah kesadaran sebuah merek dengan tetap eksis mempertahankan jenis huruf dari sampul depan buku kedalam poster besar yang nantinya akan kita lihat di bioskop atau kain persegi besar yang akan kita lihat di papan reklame (menurut saya semacam brand identity dalam sebuah brand attribute), ditambah lagi dengan soundtrack film yang berjudul sama dengan melodi yang familiar di telinga dan dibawakan oleh Nidji, sebuah band yang juga sedang booming, disamping musisi-musisi favorit lainnya. Miles production begitu mengejutkan, beberapa film yang sempat saya tonton seperti Kuldesak (saya masih ingat soundtracknya dan wawancara Mira Lesmana di acara berita sebuah stasiun televisi), AADC (cerita anak SMA yang memicu deretan film ABG, dan sejak itulah Melly Goeslaw menjadi ‘ratu soundtrack’), Petualangan Sherina (Sherina kala itu adalah penyanyi cilik yang bebeda dari semua penyanyi cilik), Tiga hari untuk selamanya (Film penuh makna, dengan jalan cerita yanbg masih jarang di Indonesia), Garasi (dengan icon yang masih teringat sampai sekarang) dan mungkin masih banyak lagi, membuat kejutan-kejutan tersendiri dalam setiap filmnya, yang jelas bagian marketing communication dari Miles Production benar-benar mempunyai strategi yang jitu, dimana sisi indie, eksklusif, idealis, dan komersil terpadu menjadi satu, dan lebih menyempit lagi apabila kita dapat melihat bahwa Mira Lesmana begitu cekatan membuat persahabatan antara idealisme dan Komersialisme yang jarang terjadi di dunia ini. Sebuah buku best seller yang pastinya menjanjikan deret penuh kursi bioskop terisi, sekaligus tantangan merealisasikan imajinasi penonton untuk membaca film laskar pelangi.

Apakah kita dapat melihat karakter lain dari film-film Miles Production, atau apakah mata kita akan dimanja dengan gambar-gambar yang nyaman, atau kita puas terhadap film dan buku yang telah kita baca dan kita tonton, mengklarifikasikan sendiri halaman per halaman pada scene per scene, kita tidak akan pernah tahu sebelum melihat dan meresapi maknanya, meresapi pesan yang ada.

‘Persahabatan’ antara sisi idealis dan komersil

Kadang kala sebuah film terhimpit diantara idealisme dan komersialisme. Dan menyatukan tali siratulrahmi antara kedua hal tersebut adalah sebuah langkah yang tepat di antara banyaknya keterbatasan. Banyak faktor-faktor tertentu kenapa idealisme bisa bersahabat dengan komersialisme di dalam sebuah industri perfilman di Indonesia . Faktor utamanya adalah faktor sebab akibat, sebabnya karena ditonton banyak orang, dan akibatnya karena keuntungan finansial (akibat-akibat positif lain menyertainya). Beberapa hal yang saya temui dari ‘persahabatan’ itu adalah; Pertama, dengan memilih novel yang bagus sekaligus best seller, membuat visualisasi dalam gambar bergerak dan dapat di mengerti oleh masyarakat (tetap tidak melupakan pesan sebuah film yang dikomunikasikan satu arah dari scene per scene) adalah pekerjaan orang-orang hebat yang jeli melihat sebuah kesempatan yang berharga. Kedua, pesan yang disampaikan tidak melupakan unsur mendidik ‘membuka mata’ seseorang terhadap suatu nilai-nilai yang ada di dalam suatu lingkungan sosial. Ketiga, tetap mempertahankan sisi artistik, dan semua hal yang sifatnya teknis secara kreatif dan tidak mainstream. Keempat, tetap tidak melupakan karakter dari film-film yang diproduksi dan tetap konsisten untuk tidak melakukan tindakan komersil yang berlebihan (memborbardir masyarakat dengan promosi gila-gilaan justru akan menghadirkan prespektif baru, entah cenderung negatif, atau sebaliknya), perlu diingat manusia juga mempunyai memori jangka panjang dan alam bawah sadar, promosi yang tepat akan tetap berada di dalam memori jangka panjang dan alam bawah sadar manusia, sedangkan promosi gila-gilaan masih tertinggal di dalam memori jangka pendek manusia, dan akan begitu cepat menghilang apabila ada perbincangan-perbincangan sesaat. ‘persahabatan’ itu tidak akan berarti apabila tidak ada sisi komersil yang layak untuk disandingkan dengan sisi idealis, begitupun sebaliknya. Laskar Pelangi adalah novel yang bagus dan bernasib baik (mungkin strategi dari publisher lah yang membuat novel bagus itu semakin diminati) serta difilmkan oleh orang-orang yang begitu serius dan tetap idelis menggarap film Laskar Pelangi, tetapi banyak novel yang juga bagus, kadang bernasib memilukan diretur dari toko buku ke penerbit, dan sekarang mungkin sudah masuk tempat daur ulang kertas. Disitulah sisi komersilisasi dibutuhkan. Novel-novel tanpa ada yang melirik itu juga punya kesempatan yang sama untuk dihargai dan dikomersilkan dan tetap menyimpan nilai-nilai kukuh idealisnya sendiri dan dapat menjadi begitu oportunis ketika disentuh seseorang yang handal memproduksi film. Tujuan utama sebuah film adalah ketika film itu ditonton, tujuan lainnya ketika mengenal istilah industri dan pasar agar dapat menghasilkan pendapatan yang dapat menutupi biaya produksi sekaligus memperoleh laba, dan dibutuhkan strategi yang tepat untuk membalikkan situasi yang tidak menguntungkan menjadi lebih mudah untuk dipahami, lengkap sudah apabila buku-buku yang kita sukai (walaupun tidak terlalu komersil, dan tanpa atribut serta penghargaan apa-apa) dapat dibaca sekaligus ditonton. ‘Persahabatan’ tersebut juga kadang terkesan mengada-ada, tetapi orang-orang yang hebat dan pintar ditambah teknologi akan membuat ‘persahabatan’ itu menjadi ada. Memproduksi sebuah film yang diangkat dari novel bagus tetapi kurang komersil dan menciptakan suatu kondisi dimana orang banyak berbondong-bondong mengantri di depan loket bioskop tanpa ada dorongan dari sisi komersil sedikitpun, tetapi lebih kepada strategi komunikasi yang tepat sasaran disamping filmnya juga mungkin wajib ditonton.

Advertisements

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Menonton buku, Membaca film (laskar pelangi)

  1. tiya

    cuy….oke cuy…. your blog ‘berkualitas’. it’s a little bit heavy to understand at first. but you got my two thumbs up boy!!! how’s your book?

  2. robyn

    yeah, I agree!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s