Domino Effect


Think before; think first; before; after all. Just consider if anyone in this world had chance to do something that take an effect, affecting someone around, or someone could be one of object or subject. Adakalanya jika kita berbicara tentang sesutu yang berhubungan dengan “tak ada habisnya” seperti teori relativitas, yang juga mengupas segalanya sampai ke bagian yang masih bisa dibagi-bagi lagi menjadi beberapa bagian, yup, itu dia pasti tidak akan ada habisnya. selalu mencari pembenaran ditengah-tengah kesalahan dan sebaliknya. Manusia yang utuh sering bertanya tentang detail, tentang denial, tentang segala hal yang belum terpuaskan. Relativitas awalnya saya kira adalah teori yang tepat ketika seorang manusia mempertanyakan tentang hakiki, tentang sifat yang mendasar benar atau salah, menurut kata dasar ‘relatif’, tetapi yang saya temui malah rumus-rumus gila milik Plato, Einstein, Newton, tentang hukum ruang dan waktu, tentang gerak, tentang cahaya…atau cacah relativitas umum dan khusus yang di uraikan oleh V Smilga, I don’t give a fuck with that. Relatif dan teori relativitas secara filsafat berhubungan satu sama lainnya, tetapi terlalu susah untuk memahami teori seperti itu, teori yang membuat merinding. Lalu saya pikir-pikir lagi (setelah menonton film domino, Mrs Knightley as Domino di film itu), saya pernah bermimpi buruk, tentang saya sendiri, yang makin lama makin kecil, lalu berada di tengah-tengah galaksi andromeda, begitu kecilnya dan tidak memahami siapa diri saya, siapa saya sesungguhnya, nama saya pun tidak berarti apa-apa, saya seperti sosok yang tidak punya sosok, atau tidak punya identitas pribadi yang harus dikenali sendiri. semua pikiran manusia seperti mind mapping mempunyai kilatan penyampaian pesan dalam otak yang terus-menerus berjalan berputar-putar di dalam otak. membagi-bagi setiap hal menjadi lebih detail, lalu semakin lama semakin mempertanyakan tentang suatu bentuk. dari situlah sebuah sifat dan bentuk menjadi sangat ambigu, kadang sesuatu yang sifatnya padat tiba-tiba menjadi kosong, seperti pementahan kembali segala yang kita rasakan melalui panca indera. saya tidak tahu menyebutnya sebagai apa, tetapi mungkin sejenis domino effect, cara berpikir secara detail yang menjurus pada relativitas, berpikir sekaligus mempertanyakan. berpikir melalui berbagai prespektif. mungkin nanti sambil berjalan kita bisa menemukan apa saja yang mengganjal pikiran kita. Semua itu memang akan berdampak langsung pada diri kita dan orang lain. Kita tidak diciptakan untuk berdiam saja bukan? jadi mulailah membuat suatu wacana baru tentang prespektif kita sendiri yang banyak. Danke…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Killing time, Sarapan dingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s