Monthly Archives: September 2008

Menonton buku, Membaca film (laskar pelangi)

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Industri perfilman di Indonesia kini begitu dinamisnya, ada saja Film baru yang hadir tiap bulannya di bioskop. Beberapa genre menawarkan hiburan yang tawanya habis ketika usai menonton, dan beberapa genre lagi sebagai minoritas menyisakan renungan mendalam sehabis menonton. cerita dari sebuah film bisa berasal dari sebuah novel, kumpulan sajak, cerpen dan beberapa karya sastra lainnya, kabar baiknya adalah kita bisa membaca dan menonton buku sekaligus, contohnya; ‘Tentang Dia’ film garapan Rudi Soejarwo yang ceritanya diangkat dari salah satu cerita dari kumpulan cerpen karya Melly Goeslaw, atau ‘Cintapuccinno’ film yang juga garapan Rudi Soejarwo dan ceritanya terinspirasi dari novel chicklit, Cintapucinno, juga ada ‘ayat-ayat cinta’ film arahan sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel Ayat-Ayat Cinta dan booming pula, contoh yang lain adalah ‘laskar pelangi’, walaupun belum beredar di bioskop, tetapi nama Mira Lesmana, Riri Riza, dan penulis novel ‘Laskar Pelangi’ itu sendiri, Andrea Hirata, begitu menjanjikan.

Menonton Bukunya Andrea Hirata

Laskar pelangi, adalah salah satu novel yang begitu bersahaja (saya jujur dan tidak sedang berpromosi). “buku rekomendasi Kick Andy” itulah kira-kira judul dalam deret rak buku di sebuah toko buku besar, Laskar pelangi ada di situ, dan eksis sebagai produk eye level dengan tulisan glossy berlatar belakang bintang ‘best seller‘ dan baru-baru ini sosok andrea hirata mulai terlihat di sampul depan Laskar Pelangi cetakan terbaru. Saya bilang “wow” Laskar pelangi begitu suksesnya, lepas dari acara Kick Andy yang sempat menghadirkan Andrea Hirata, label best seller di cover novelnya, dan strategi pemasaran yang handal, Laskar Pelangi tetap menjadi salah satu buku terbaik. Bisa divilsualisasikan secara dramatis oleh orang-orang yang hebat di bidangnya merupakan satu penghargaan bagi Laskar Pelangi dan sekaligus juga sebagai tantangan mewujudkan imajinasi orang banyak yang penah membaca laskar pelangi.

Membaca filmnya Miles Production

ketika trailer film Laskar Pelangi mulai mempromosikan dirinya, soudtrack film itu mulai terdengar, ditambah bantuan dari beberapa mulut yang bilang bahwa Laskar Pelangi difilmkan, maka ekspektasi kita terhadap laskar pelangi yang akan kita baca dalam film, tidak dapat dibendung lagi. Sambil menunggu film itu diputar di bioskop, saya bilang “wow” lagi, Laskar Pelangi menguggah kesadaran sebuah merek dengan tetap eksis mempertahankan jenis huruf dari sampul depan buku kedalam poster besar yang nantinya akan kita lihat di bioskop atau kain persegi besar yang akan kita lihat di papan reklame (menurut saya semacam brand identity dalam sebuah brand attribute), ditambah lagi dengan soundtrack film yang berjudul sama dengan melodi yang familiar di telinga dan dibawakan oleh Nidji, sebuah band yang juga sedang booming, disamping musisi-musisi favorit lainnya. Miles production begitu mengejutkan, beberapa film yang sempat saya tonton seperti Kuldesak (saya masih ingat soundtracknya dan wawancara Mira Lesmana di acara berita sebuah stasiun televisi), AADC (cerita anak SMA yang memicu deretan film ABG, dan sejak itulah Melly Goeslaw menjadi ‘ratu soundtrack’), Petualangan Sherina (Sherina kala itu adalah penyanyi cilik yang bebeda dari semua penyanyi cilik), Tiga hari untuk selamanya (Film penuh makna, dengan jalan cerita yanbg masih jarang di Indonesia), Garasi (dengan icon yang masih teringat sampai sekarang) dan mungkin masih banyak lagi, membuat kejutan-kejutan tersendiri dalam setiap filmnya, yang jelas bagian marketing communication dari Miles Production benar-benar mempunyai strategi yang jitu, dimana sisi indie, eksklusif, idealis, dan komersil terpadu menjadi satu, dan lebih menyempit lagi apabila kita dapat melihat bahwa Mira Lesmana begitu cekatan membuat persahabatan antara idealisme dan Komersialisme yang jarang terjadi di dunia ini. Sebuah buku best seller yang pastinya menjanjikan deret penuh kursi bioskop terisi, sekaligus tantangan merealisasikan imajinasi penonton untuk membaca film laskar pelangi.

Apakah kita dapat melihat karakter lain dari film-film Miles Production, atau apakah mata kita akan dimanja dengan gambar-gambar yang nyaman, atau kita puas terhadap film dan buku yang telah kita baca dan kita tonton, mengklarifikasikan sendiri halaman per halaman pada scene per scene, kita tidak akan pernah tahu sebelum melihat dan meresapi maknanya, meresapi pesan yang ada.

‘Persahabatan’ antara sisi idealis dan komersil

Kadang kala sebuah film terhimpit diantara idealisme dan komersialisme. Dan menyatukan tali siratulrahmi antara kedua hal tersebut adalah sebuah langkah yang tepat di antara banyaknya keterbatasan. Banyak faktor-faktor tertentu kenapa idealisme bisa bersahabat dengan komersialisme di dalam sebuah industri perfilman di Indonesia . Faktor utamanya adalah faktor sebab akibat, sebabnya karena ditonton banyak orang, dan akibatnya karena keuntungan finansial (akibat-akibat positif lain menyertainya). Beberapa hal yang saya temui dari ‘persahabatan’ itu adalah; Pertama, dengan memilih novel yang bagus sekaligus best seller, membuat visualisasi dalam gambar bergerak dan dapat di mengerti oleh masyarakat (tetap tidak melupakan pesan sebuah film yang dikomunikasikan satu arah dari scene per scene) adalah pekerjaan orang-orang hebat yang jeli melihat sebuah kesempatan yang berharga. Kedua, pesan yang disampaikan tidak melupakan unsur mendidik ‘membuka mata’ seseorang terhadap suatu nilai-nilai yang ada di dalam suatu lingkungan sosial. Ketiga, tetap mempertahankan sisi artistik, dan semua hal yang sifatnya teknis secara kreatif dan tidak mainstream. Keempat, tetap tidak melupakan karakter dari film-film yang diproduksi dan tetap konsisten untuk tidak melakukan tindakan komersil yang berlebihan (memborbardir masyarakat dengan promosi gila-gilaan justru akan menghadirkan prespektif baru, entah cenderung negatif, atau sebaliknya), perlu diingat manusia juga mempunyai memori jangka panjang dan alam bawah sadar, promosi yang tepat akan tetap berada di dalam memori jangka panjang dan alam bawah sadar manusia, sedangkan promosi gila-gilaan masih tertinggal di dalam memori jangka pendek manusia, dan akan begitu cepat menghilang apabila ada perbincangan-perbincangan sesaat. ‘persahabatan’ itu tidak akan berarti apabila tidak ada sisi komersil yang layak untuk disandingkan dengan sisi idealis, begitupun sebaliknya. Laskar Pelangi adalah novel yang bagus dan bernasib baik (mungkin strategi dari publisher lah yang membuat novel bagus itu semakin diminati) serta difilmkan oleh orang-orang yang begitu serius dan tetap idelis menggarap film Laskar Pelangi, tetapi banyak novel yang juga bagus, kadang bernasib memilukan diretur dari toko buku ke penerbit, dan sekarang mungkin sudah masuk tempat daur ulang kertas. Disitulah sisi komersilisasi dibutuhkan. Novel-novel tanpa ada yang melirik itu juga punya kesempatan yang sama untuk dihargai dan dikomersilkan dan tetap menyimpan nilai-nilai kukuh idealisnya sendiri dan dapat menjadi begitu oportunis ketika disentuh seseorang yang handal memproduksi film. Tujuan utama sebuah film adalah ketika film itu ditonton, tujuan lainnya ketika mengenal istilah industri dan pasar agar dapat menghasilkan pendapatan yang dapat menutupi biaya produksi sekaligus memperoleh laba, dan dibutuhkan strategi yang tepat untuk membalikkan situasi yang tidak menguntungkan menjadi lebih mudah untuk dipahami, lengkap sudah apabila buku-buku yang kita sukai (walaupun tidak terlalu komersil, dan tanpa atribut serta penghargaan apa-apa) dapat dibaca sekaligus ditonton. ‘Persahabatan’ tersebut juga kadang terkesan mengada-ada, tetapi orang-orang yang hebat dan pintar ditambah teknologi akan membuat ‘persahabatan’ itu menjadi ada. Memproduksi sebuah film yang diangkat dari novel bagus tetapi kurang komersil dan menciptakan suatu kondisi dimana orang banyak berbondong-bondong mengantri di depan loket bioskop tanpa ada dorongan dari sisi komersil sedikitpun, tetapi lebih kepada strategi komunikasi yang tepat sasaran disamping filmnya juga mungkin wajib ditonton.

2 Comments

Filed under Uncategorized

Pak SBY, berhati-hatilah

supertoy, dan wah belum lama ini blue energy, kita masyarakat awam, yah sudahlah back to the reality, lebih baik mari kita kumpulkan amal di bulan puasa ini, saya dengar di NTT sekarang sedang dilanda musibah kelaparan, kekeringan akibat perubahan iklim global, mari ramai-ramai kita beramal…

And so on, and so on, and so on, Mr SBY, just becarefull

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Friends, Escaping one last time

To all my F7 brothers and SVN sisters

what if that picture can describe our fantasy, keep dreaming my friends, someday we”ll gonna take a long journey to catch that moment, as soon as possible, before we were 30, hahahahahahaAs a note, This is an invitation, hahahaha, ayo mari kita cari uang sebanyak-banyaknya

1 Comment

Filed under Killing time, Sarapan dingin

Give me some Idea Please…

Got no trully activity, well done

got no hidden agenda, got one

got no idea, yeah whatever

then I try to browsing, and I found some Idea, but it’s not an original idea from me, it was another person’s Idea, for this week, it just so ‘new’, more cutting edge. me, that kind of person who cant organize all file along!, so It was my pleasure to create something like this picture below

If they can create that things, why I can’t? it just copycat an idea, so…(dasar bule, kreatif bgt sih).

nahh, nggak cuma di situ aja, skrg ada lagi yang mau di bikin untuk kamar tercinta (tempat kerja skaligus istirahat, makan, dan mandi …sama saja seperti sapi hahahahaha)…look at picture below please…


It’s not expensive for raw material, I can get it from my parent’s back yard, and it’s free, I think that design had much value than it’s raw material, again and again, kok bisa ya…

from used tire, I can also create my laptop bags…(hehehe this is my idea, based on exist idea)

This week, I’m gonna use my time to create all stuff, mudah-mudahan jadi, tapi kalopun gagal, yaa, kan udah usaha…maklumlah bukan ahlinya, jadi coba dulu pantang menyerah, lumayan buat ngisi waktu kan, kalo lagi nggak ada ide kaya’ gini, lagi males nulis, apalagi milin-milin digitizer…fuuuh…ternyata browsing nggak jelas juga bermanfaat…thanks to technology called internet (masuk surga deh orang yg pertama kali nemuin internet)…ayo siapkan bahan dan alat-alat, siapkan keberanian dan kegilaan serta mental yang kuat bila hasilnya tidak sesuai dengan yg diharapkan…hahahaha


Leave a comment

Filed under fasting season, Killing time

Sahur yang beriklan

(Tanggapan pada ulasan Budi Suwarna (Kompas, 7 September 2008) yang berjudul Parade iklan waktu sahur)
Saat sahur, saya dan kebanyakan orang yang terbangun dari tidur lelap, berjuang untuk membangun mood makan sahur, karena mulut & kerongkongan kering, mata masih buka tutup walaupun sudah dibasuh dengan air, dan perut serasa tidak menyenangkan. Acara TV saat sahur menurut saya adalah acara yang tepat untuk membangun mood makan sahur saya (andaikan ada acara semacam wisata kuliner, justru lebih membantu mood makan bagi saya dan kebanyakan orang. Menurut saya, wajar apabila acara-acara TV saat sahur dibuat sesederhana mungkin, komedi ringan dan kuis (yang tepat disebut bagi-bagi rezeki), toh otak kita juga masih bimbang memilih antara bantal atau nasi. Akan membuat saya tersedak saat makan sahur apabila acara-acara yang saya tonton berupa ceramah atau perdebatan dengan tema yang berat dan kuis-kuis dengan pertanyaan semacam “berapakah diameter dari planet jupiter?” atau “uraikanlah tentang hukum relativitas khusus?”. Saya salut pada stasiun TV yang membuat acara-acara sederhana tetapi bisa mendatangkan sponsor yang sangat banyak. Saya sarankan, cobalah untuk melihat acara tersebut sebagai hiburan yang bonusnya iklan. Tidak jarang iklan membantu kehidupan kita sehari-hari, anggaplah sebagai rekomendasi suatu produk. Toh iklan-iklan yang memanfaatkan acara TV (khususnya saat sahur) bisa dibilang jalan ditempat dalam hal kreatifitas, karena metode yang lebih kreatif belum dibutuhkan, kita tidak hidup di negara maju yang persaingan industri komersil sangat ketat sehingga mereka dengan mudahnya lepas dari zona aman, karena zona aman itu juga sudah tidak menguntungkan lagi. Berbeda dengan di Indonesia, zona aman itu masih eksis sampai sekarang, dan selama masih menguntungkan, mengapa tidak.
Tentang Iklan
Lebih realistis, dan lebih abu-abu lagi sekarang, kita semua tahu bahwa di Indonesia brand yang tidak secara terang-terangan memperlihatkan brand atributnya akan kalah pada persaingan antar brand di industrinya untuk mendoktrin masyarakat, doktrin yang bertubi-tubi dibutuhkan untuk menanamkan brand pada pola pikir sadar maupun tidak sadar masyarakat indonesia pada umumnya. Di dalam industri yang saling berkaitan antara acara TV dan iklan, terdapat pola yang saling mengikat satu sama lainnya, pihak pertama Stasiun TV dengan suatu acara, pihak kedua adalah sponsor, dan terakhir sebagai pelengkap adalah masyarakat sebagai penonton saja (sebagai alibi data valid stasiun TV untuk share marketnya dalam suatu acara yang diproduksinya). Ketiga bagian tadi saling berkaitan, hilang satu, akan tampil blue screen di TV kesayangan kita. Menurut saya, cukup kreatif cara sebuah acara sahur itu menyusupi iklan. Yang belum ada dalam tulisan berjudul parade iklan waktu sahur adalah Sisipan produk sponsor dikondisikan sangat realistis terhadap keadaan acara semikuis yang melibatkan pesan-pesan dari iklan dibuat sangat mirip dengan apa yang ada di ITC, atau beberapa set kondisi lingkungan kita. Iklan-iklan saat waktunya muncul sudah diklasifikasikan (percaya atau tidak, klasifikasinya dapat kita raksakan melalui jenis iklannya. Jadi, kita tidak pernah dipaksa untuk melihat iklan bukan, daripada kita apatis terhadap acara-acara tersebut cobalah untuk lebih memahami pihak-pihak yang bergerak di dalam industri broadcasting dan advertising, tiga pihak yang saling membutuhkan, sistem yang masih saja berkerak dan tidak berubah-berubah. Mungkin beberapa tahun lagi kita dapat menikmati acara-acara TV dengan penyisipan iklan yang lebih kreatif dan tidak disangka-sangka. Tidak perlu merasa kecewa terhadap eksploitasi iklan di acara yang dapat membangun mood makan sahur, jadikanlah acara+iklan sebagai suatu kesatuan totonan, ikan dengan acara xx, atau acara xx dengan iklan, jika masih kecewa gunakanlah Tivo (sayang di sini belum ada) atau tekan tombol off pada remote TV anda.

Leave a comment

Filed under fasting season

Malaysia lagi, malaysia lagi


Dari Gatra online:

Malaysia Desak Pembatasan Lagu Indonesia

Kuala Lumpur, 4 September 2008 07:34
Para pendengar radio di Malaysia bakal kesulitan untuk mendengar lagu-lagu Indonesia kalau saja pemerintah setempat mengabulkan permintaan pembatasan penyiaran lagu Indonesia.

Adalah Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia (Karyawan), yang mengusulkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di radio. Rencananya usulan tersebut akan disampaikan kepada Menteri Tenaga, Air, dan Komunikasi Malaysia, Shaziman Abu Mansor.

“Kami akan menghadap menteri Shaziman besok (Kamis, 4/9) untuk menyampaikan tuntutan kuota 90 persen siaran lagu-lagu Malaysia, sisanya baru lagu Indonesia 10 persen,” kata Ketua Karyawan, Ahmad Abdullah, kepada Malaysiakini.com, Rabu (3/9).

Menurut Karyawan, jika tuntutan kuota itu tidak diterima, perbandingan 80:20 masih bisa diterima.

Tuntutan itu didukung sekitar 700 karyawan yang bekerja di industri musik. Dalam pertemuan itu, Presiden Karyawan Freddie Fernandez, komposer dan penyanyi terkenal M Nasir dan Nan Saturnie akan hadir dalam pertemuan dengan menteri.

Para karyawan industri rekaman Malaysia sudah lama memprotes dan menuntut agar radio di Malaysia tidak terlalu banyak menyiarkan lagu Indonesia karena akan menambah penjualan album penyanyi Indonesia di Malaysia, dan menurunkan pangsa pasar album penyanyi Malaysia.

Para penyiar dan pengelola stasiun radio Malaysia beralasan seringnya memutar lagu Indonesia disebabkan banyaknya permintaan dari pendengar.

Bahkan, tiga stasiun radio swasta yang saling berlomba menduduki posisi teratas di Malaysia, Era FM, Hot FM, dan Suria FM, memiliki program pemutaran lagu Indonesia setiap hari Minggu, antara jam 10-12 siang.

Penyanyi rock terkenal Malaysia, Amy Search, mengatakan bahwa jika jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari.

Karena banyak penggemarnya, banyak perusahaan telekomunikasi seperti Maxis, DIGI, Celcom, dan Telekom Malaysia yang mensponsori konser musik musisi Indonesia di Malaysia. [EL, Ant]

1 Comment

Filed under Uncategorized

Sostenidos de tanta muerte


– Peradaban dan pembinasaan tak pernah terpisahkan-

Balancing needed to be. every civilization came with it cursed. ketika peradaban sudah mencapai batas maksimum, bearti sudah tidak adalagi yang perlu ditambah, dan muncul banyak sekali orang-orang serakah yang mulai baku hantam, hingga peradaban itu hancur semudah memporak-porandakan sebuah peradaban Aztec dengan teknologi mesiu. serakah yang membuatnya begitu.

Untuk membuat peradabaan yang baru di perlukan beberapa pembinasaan yang lazim maupun tidak lazim, dimulai dari keserakahan dengan alasan “for the greater good” god damned!!!

Dalam setiap peradaban muncul orang-orang antitrust, yang memang ditakdirkan untuk selalu sial dengan pure heart, tetapi lama-kelamaan menjadi apatis dengan semua orang dan mulai membentengi dirinya sendiri.

Ketika sebuah peradaban hancur, hilang sudah semuanya, sebuah ekosistem buatan manusia runtuh, dan kadang diselingi dengan intrik asap mengepul. Timbul banyak sekali bakal calon daun yang diembuni.

Ketika belum Kiamat, peradaban silih berganti datang dan pergi, ketika belum kiamat banyak sekali orang-orang yang serakah, ketika belum kiamat kita semua disibukkan dengan ‘bagaimana caranya membentegi diri kita sendiri’, ya, semua itu tidak akan ada habisnya, dan reorganisasi organisme tetap masih bisa berlangsung secara berulang-ulang.

Leave a comment

Filed under fasting season, Killing time, Sarapan dingin