Seperti Judulnya, Sumbawa harusnya damai. Konflik Komunal di awal tahun, benar-benar bikin saya stres, ada apa sih dengan kita? kok begitu mudahnya “terbakar”
Ketika saya tanya tetua adat setempat, yang dilupakan sebenarnya adalah sebuah nilai hidup. Kita Sering mendengar kata populer ‘kearifan lokal’
Bayangkan, ratusan rumah suku tertentu dibakar, karena sekelompok orang mendapat kabar yang disebar melalui jejaring sosial, mengenai salah satu anggota sukunya yang dianiaya suku lainnya. Lagi-lagi aparat keamanan ‘telat’ tidak bertindak, saat bangunan-bangunan belum berbentuk abu.
Konflik komunal, karena isu sepele, seorang polisi suku A, dituduh menganiaya perempuan dari suku B, hingga tewas, setelah diautopsi, ternyata perempuan tersebut tewas karena kecelakaan, tetapi seseorang mengembangkan isu ini sebagai bentuk protes, atas kecemburuan sosial, karena suku A yang terkenal gigih bekerja, lebih sejahtera dibanding suku B. Sementara, suku A dianggap telah menodai nilai syariah dengan membangun banyak klub remang-remang, akhirnya pemerintah setempat sempat menggusur klub remang-remang pinggir pantai, untuk meredakan amarah suku B, tetapi, nyatanya…
Hotel Tambora, samping Kantor Bupati, tidak luput dari amuk massa
Sultan Sumbawa, M. Kaharuddin IV, sempat mengumpulkan para pemuka adat, dan membahas masalah ini, menurut sultan setiap orang yang mendiami Sumbawa Besar, harus patuh pada adat, memahami filosofi tanah Sumbawa “ketaket ko nene, kangila boat lenge” malu pada tuhan, takut berbuat buruk”
Kita ternyata lengah, saking absurdnya kebijakan pemerintah untuk daerah-daerah yang perlu perhatian, saat kejadian, bahkan seorang bupati dan sultan yang turun untuk meredakan amarah tidak digubris massa.
Sultan: sumbawa tidak hanya islam, tapi juga kristen, hindu, bali, jawa, bugis, dan semuanya yang ingin hidup damai
Salah satu pengungsi, Dewa, pasrah, ia percaya dengan hukum karma, dan tidak ingin membalas perbuatan orang-orang yang telah membakar rumahnya, harta bendanya habis, tetapi ia bersyukur, keluarganya selamat.
Dewa: saya percaya hukum karma
Padahal, Sumbawa sebenarnya tempat yang sangat indah, Moyo Hulu, bukit hijau, tempat ternak merumput, seperti dunia antah berantah, yang masih damai hingga kini.
Tambahan, behind the scene! thanks to Wildan Indrawan, Juru Kamera yang ngerti, keinginan nyeleneh reporternya! untuk bikin paket durasi 7 menit, dengan visual ciamik!



















