Tak terhitung berapa banyak media yang membahasnya, mulai dari keberhasilanya membekuk Alcapone si mafia pengggelap pajak dan tersangka dengan 5000 kasus kekerasan, sampai dengan kematiannya yang tragis. Raganya memang sudah tidak ada, terurai menjadi tak terbentuk apapun, tetapi sayangnya jiwanya, yang mempunyai sikap untuk ‘berani mati’ atas apa saja yang benar, juga sudah lenyap. Tidak ada lagi yang benar di dunia ini, media raksasa punya si ‘yahudi’ itu kah, agen-agen resmi US yang selalu mengaung-gaungkan kata-kata ‘top secret’ kah, orang bersorban di tengah gurun pasir kah? atau biksu khusyu yang berdoa di kuilnya?
entah mengapa, begitu banyaknya kepentingan pribadi di negeri ini, saya dan hampir semuanya. seseorang disogok dua mercedez benz untuk melegalkan ‘illegal logging’ (padahal nilai tukarnya justru jauh lebih bernilai ribuan ton kayu, atau ribuan hektar hutan yang dibabat, shame on you pejabat), lalu beberapa orang pintar tidak menemukan apa-apa di negeri ini, mereka pergi jauh ke negeri lain untuk berkarya (bukan salah mereka karena tidak difasilitasi di sini), betapa malunya kita dengan dibayar satu rupiah kita bisa berikan apa saja kepada orang-orang yang ingin mengambil banyak keuntungan dari negeri ini.
Teman, kita renungkanlah, apa yang terbaik untuk bangsa ini, bagaimana caranya kita mengahdapi ‘pertukaran’ menggoda itu, bagaimana caranya agar kita tidak menjual bangsa ini
“saya lebih baik mati kekeringan, dari pada harus menjual bangsa ini” saya kutip dari seseorang yang benar-benar mengubah pola pikir oportunis ini.

Bangun shubuh, sholat dahulu, lalu lari pagi, setelah itu sarapan bubur atau ketupat sayur padang yang dijual di dekat rumah, hanya 2 blok saja jaraknya. setelah itu siap-siap untuk mandi. menyetel CD kesayangan yang baru saja dibeli tadi malam, lagu-lagu dari Morcheeba, menenangkan jantung yang berpicu kencang di pagi hari. Setelah itu bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, memanaskan Liberty tercinta, dan merokok barang sebatang.